facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Jumlah Peneliti Indonesia Kalah Jauh Dibandingkan China, Cuma 5 Persennya!

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi Rabu, 11 November 2020 | 17:11 WIB

Jumlah Peneliti Indonesia Kalah Jauh Dibandingkan China, Cuma 5 Persennya!
Ilustrasi penelitian di Indonesia. (Shutterstock)

Jumlah peneliti di Indonesia masih sangat minim, bahkan cuma 5 persen dibandingkan dengan jumlah peneliti di China.

SuaraBatam.id - Minimnya jumlah peneliti di Indonesia menjadi salah satu alasan mengapa perkembangan ilmu pengetahuan dan riset Indonesia kalah jauh dibandingkan China dan Amerika Serikat.

Menurut Pendiri PT Kabe Farma Tbk, dr. Boenjamin Setiawan, PH.D. jumlah peneliti di Indonesia tidak sampai 5 persen dari jumlah peneliti di China.

"Saya lihat Indonesia itu jumlah penelitinya hanya ada 46.000 orang, relatif kecil sekali. Yang paling besar China, jumlah penelitinya ada 1,4 juta orang, disusul sama Amerika kira-kira ada 900.000 orang," ujar dr. Boenjamin dalam acara pembukaan Kalbe Science Awards (RKSA) 2021, Selasa (10/11/2020).

Selain berharap jumlah peneliti semakin banyak, dr. Boenjamin juga berharap penelitian yang dilakukan di Indonesia lebih berkualitas, dan itu sangat bergantung pada dana penelitian yang didapatkan peneliti. Maka, salah satu harapan dana penelitian ini datang dari pemerintah.

Baca Juga: Dianggap Murahan, Promosi Universal Studios di Beijing Tuai Kritikan

Alangkah baiknya jika, dana penelitian dianggarkan khusus oleh pemerintah dan masuk dalam jatah presentase pendapatan negara atau gross domestic product (GDP).

Misalnya pemerintah mendapatkan pemasukan, maka sekian persennya diperuntukkan mendanai penelitian para peneliti.

"Harapan saya, dana penelitiannya dalam 5 tahun yang akan datang menjadi 1 persen dari GDP Indonesia. Ini yang saya kira penting sekali dan moga-moga hal ini bisa terlaksana," terangnya.

Lebih lanjut, dr. Boenjamin juga berharap penelitian tidak berakhir di buku penelitian semata, tapi bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Misalnya hasil penelitian bisa dihilirisasi atau komersialisasi dalam bentuk obat atau produk, dan di sinilah peran perusahaan bermain.

"Pada unsur hilirisasi inilah, unsur bisnis atau perusahaan memegang peranan penting agar penelitian yang dilakukan oleh para akademisi dapat dinikmati secara nyata oleh masyarakat. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan juga berperan penting dalam memperlancar proses penelitian di Indonesia," tutup dr. Boenjamin.

Baca Juga: Bangga! Peserta Kelas Bahasa Jawa di China Membludak

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait