- Harga plastik mengalami kenaikan imbas konflik geopolitik Timur Tengah.
- Warga Batam diajak beradaptasi menggunakan tas belanja ramah lingkungan.
- Wali Kota Batam menyebut kenaikan harga plastik tidak bisa terelakkan.
SuaraBatam.id - Harga plastik mengalami kenaikan seiring situasi geopolitik Timur Tengah dan perang Amerika Serikat-Iran yang tengah terjadi.
Kenaikan harga plastik juga dirasakan warga Batam yang dinilai sebagai dampak berantai dari fluktuasi sejumlah komoditas strategis nasional.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk mulai beradaptasi dengan menggunakan tas belanja ramah lingkungan.
"Kalau tiga ini terjadi perubahan, maka akan ada dampak ikutan yang luar biasa," ujarnya dikutip dari Batamnews.co.id--jaringan Suara.com, Selasa (7/4/2026).
Menurut Amsakar, langkah ini merupakan respons atas tren kenaikan harga plastik yang dinilai sebagai dampak berantai dari fluktuasi sejumlah komoditas strategis nasional.
Dalam keterangannya, Amsakar menjelaskan bahwa terdapat tiga komoditas utama yang pergerakannya selalu dijaga ketat oleh negara karena menjadi pilar stabilitas ekonomi, yakni Bahan Bakar Minyak (BBM), listrik, dan beras (sembako).
Amsakar menyebutkan bahwa kenaikan harga plastik saat ini merupakan hal yang tidak terelakkan.
Perubahan harga pada sektor energi dan bahan pokok secara otomatis akan merembet ke berbagai sektor lainnya, termasuk industri pengemasan (packaging), biaya angkut, hingga harga tiket transportasi.
"Jadi tidak aneh kalau kemudian itu terjadi; plastik akan naik, kemudian biaya angkut naik, harga tiket juga naik. Ini tentu saja menuntut penyesuaian baru, baik dari sisi pelaku usaha maupun pemerintah," tambahnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Wali Kota mengajak masyarakat untuk lebih kreatif dalam mencari alternatif pengganti plastik sekali pakai.
Ia menyarankan penggunaan bahan-bahan yang lebih berkelanjutan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Ke depan, masyarakat kita harapkan mulai mencari alternatif lain. Jika selama ini kita bergantung pada plastik, mungkin ke depannya kita butuh kayu, kertas, atau bahan pengganti lainnya," jelasnya.
Selain faktor harga bahan baku global yang diprediksi akan terus mengalami kenaikan signifikan, Amsakar juga menyoroti pentingnya aksesibilitas logistik antar-daerah untuk menekan biaya produksi di Batam.
Ia mendorong penguatan penggunaan produk dalam negeri sebagai jalan keluar di tengah mahalnya bahan baku impor.
Dia menyampaikan, kelancaran logistik menjadi kunci utama agar kebutuhan industri manufaktur dan retail di Batam tetap terjaga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- 4 Sunscreen Wardah untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Tak Masuk Skuad Utama Persija, Kualitas Shayne Pattynama di Bawah Standar Shin Tae-yong
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Mahasiswi Tewas Ditabrak di Batam, Sopir Mobil Mewah Sempat Mau Kabur
-
Mahasiswi Tewas Ditabrak di Batam, Detik-detik Kecelakaan Terekam CCTV
-
Mahasiswa Geruduk DPRD Batam: Protes Data Center, Blackout hingga Karhutla
-
BRI Perkuat Kompetensi Generasi Muda Lewat Program Magang Nasional 2026
-
Siswa SMA di Batam Cedera Kepala Dipukul Teman, Kacabdis Kepri: Namanya Anak-anak