SuaraBatam.id - Nelayan di Kepulauan Riau (Kepri) diminta untuk lebih berhati-hati saat melaut di perbatasan negara tetangga seperti Malaysia.
"Ini mengingat belakangan cukup banyak nelayan Kepri ditahan Aparat Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM), karena diduga melanggar batas tangkap," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepri Said Sudrajad di Tanjungpinang, dilansir dari Antara.
Said mencontohkan peristiwa penangkapan delapan nelayan asal Pulau Serasan, Kabupaten Natuna yang ditangkap APMM di perairan Kucing, Sarawak.
Meskipun belum sepenuhnya melewati batas wilayah tangkap Malaysia, nelayan-nelayan tersebut terlanjur ditahan.
Diakui Said, mayoritas nelayan di Kepri masih tradisional, baik dari segi sarana maupun peralatan tangkap yang digunakan. Ditambah lagi, mereka tidak memiliki perangkat navigasi yang memadai untuk membantu memberikan arah pada kapal saat berlayar.
Baca juga:
Tahun Ini Tuan Rumahnya Palembang, Berikut Cara Daftar Sumatera Media Summit 2024!
Saat ini, Pemprov Kepri juga sedang berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan stakeholder terkait untuk memulangkan delapan nelayan Natuna yang ditahan di Sarawak.
Said meyakini bahwa nelayan yang ditahan tersebut masih melakukan aktivitas penangkapan ikan di perairan Indonesia.
“Kami meyakini nelayan yang ditahan di negeri jiran itu masih melakukan aktivitas penangkapan ikan di perairan negara kita,” ungkap Said.
Ia pun mengakui bahwa sebagian nelayan setempat terkadang kurang memahami batas wilayah laut, terutama saat cuaca bagus dan hasil tangkapan ikan banyak.
Oleh karena itu, Said mengimbau kepada seluruh nelayan di Kepri untuk selalu berhati-hati saat melaut di perbatasan.
Pastikan untuk memahami batas wilayah laut dan gunakan perangkat navigasi yang memadai agar terhindar dari insiden penangkapan oleh aparat keamanan negara tetangga.
Berita Terkait
-
Caleg Terpilih di Kepri Wajib Laporkan Kekayaan 21 Hari Sebelum Pelantikan
-
KPU Kepri Batasi Jumlah Pemilih per TPS Maksimal 600 Orang
-
Digagalkan, Tujuh PMI Ilegal Diselundupkan ke Malaysia dan Korea Selatan di Pulau Assan Karimun
-
Lebih dari 100 Restoran KFC Ditutup di Malaysia Akibat Diboikot Warga Pro-Palestina
-
14 Nelayan Bintan dan Lingga Masih Ditahan Polisi Malaysia, Apa Sebab?
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
Blackout di Kawasan Industri Batamindo: Aktivitas Lumpuh, Karyawan Libur Massal
-
Isu Data SPMB Bocor, Pemkot Batam Minta Orangtua Tak Panik: Pendaftaran Aman
-
Data SPMB Batam Diduga Bocor, Peneliti Anonymous Sudah Ingatkan Jauh Hari
-
Dana Rp12 Miliar untuk Menata Taman Gurindam 12 Tanjungpinang
-
Viral Data SPMB Batam Diduga Bocor, 1.495 Dokumen Pribadi Tersebar