"Kami serahkan pengelolaan SPAM kepada BP Batam dalam kondisi terbaik. Bahkan, tidak ada outstanding pengaduan pelanggan, dan sambungan rumah pada saat itu," lanjutnya.
Tidak hanya itu, Benny juga mengkritisi pernyataan Muhammad Rudi yang menyebut solusi utama adalah penggantian jaringan SPAM, yang memerlukan anggaran hingga Rp1 triliun.
"Perlu saya sampaikan bahwa permasalahan matinya aliran air di Tanjung Uncang, semata - mata adalah masalah kurangnya pasokan kapasitas pengolahan air, dan bukan karena masalah kualitas pipa, sehingga dalih tersebut sangat tidak relevan," tegasnya.
Pihaknya menyarankan, agar BP Batam seharusnya sudah harus membangun tambahan kapasitas pengolahan hingga 400 liter per detik selama 2 tahun terakhir, dan penambahan pipa Distribusi yang memadai.
"Tanpa itu jangan harap permasalahan air dapat dibereskan, apalagi kalau cuma mengandalkan tangki air, sehingga sebaiknya jangan mencari kambing hitam," tuturnya.
Kontributor : Partahi Fernando W. Sirait