Pengembangan senjata ini tentu tidak bisa membuat Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu kekuatan dunia diam. Secara bertahap, AS mengawasi pengembangan senjata ini sejak tahun 2020 silam.
AS sendiri sudah berkali-kali mengecam dan meminta Rusia agar segera memberhentikan pengembangan senjata poseidon.
Sebelumnya, pada Maret 2019, Presiden Putin pernah menjelaskan bahwa Poseidon mampu meluluhlantakan bangunan, kapal induk, hingga sejumlah target serupa lainnya.
Empat bulan kemudian, Kementerian Pertahanan Rusia merilis sebuah video yang memarkan fasilitas dan proses drone nuklir tersebut dirakit.
Baca Juga:Berkalung Kefiyeh, Anies Kenang Palestina di Lebaran 2021
“Drone memiliki beberapa keunggulan. Kapal selam dengan awak di atas kapal, tentu saja, adalah senjata yang kuat, tetapi ada batasan tertentu pada faktor manusia,” ujar mantan Kolonel Direktorat Intelijen Utama (GRU) Rusia, Alexander Zhilin melansir Hops.id (jaringan Suara.com).
“Poseidon secara praktis bisa waspada dan melakukan tugas kapan saja,” sambungnya.
Rusia direncanakan pada tahap awal bakal menggunakan 16 Poseidon untuk memperkuat garda terdepan pasukan tempur Armada Utara.
Bahkan, pihak militer rusia mengklaim Poseidon memiliki kemampuan menyelam hingga cukup dalam dan dapat menyembunyikan diri dari radar manapun, termasuk AS.
Baca Juga:Gal Gadot 'Diserang' Netizen Gegara Sebut Israel Berhak Merdeka