Eko Faizin
Minggu, 20 September 2026 | 13:03 WIB
Lokakarya tentang foto jurnalistik di Festival Media Selat Malaka 2026, Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026). [Ist]
Baca 10 detik
  • AJI Tanjungpinang dan PFI Sumatera menggelar lokakarya tentang etika foto jurnalistik di Politeknik Negeri Batam pada Sabtu, 19 September 2026.
  • Hendra Syamhari dan M. Noor Kanwa menyampaikan materi mengenai tantangan kecerdasan buatan, pentingnya kejujuran visual, serta keaslian momen.
  • Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas jurnalisme visual agar masyarakat mampu membedakan karya asli dan hasil manipulasi teknologi.

SuaraBatam.id - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) menjadi salah satu tantangan bagi pewarta foto saat ini.

Isu tersebut dibahas dalam salah satu lokakarya Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 di Ruang Rapat TA 9.4 Lantai 9, Gedung Tower A, Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan yang diikuti 29 peserta dari kalangan umum, termasuk kreator konten dan jurnalis dimoderatori oleh Fara Verwey dari AJI Tanjungpinang.

Sementara itu, Hendra Syamhari selaku Koordinator Wilayah (Korwil) Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bagian Sumatera dan M. Noor Kanwa selaku fotografer lepas (freelance) hadir sebagai narasumber.

Dalam lokakarya tersebut, Hendra membawakan materi bertajuk "Kejujuran Visual di Era Serba Digital: Tantangan Foto Jurnalistik Sebagai Literasi Publik". Adapun Kanwa membawakan materi bertajuk "Etika Penggunaan AI dalam Foto Jurnalistik".

Dalam pemaparannya, Hendra menyebutkan bahwa fotografer jurnalistik memegang teguh etika dalam menjalankan tugasnya. Etika tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan dari hoaks visual.

"Sebuah foto disajikan secara jujur dan transparan sehingga publik dapat memahami suatu peristiwa secara utuh tanpa dimanipulasi," kata Hendra.

Ia melanjutkan, dalam etika jurnalistik, karya visual harus mencerminkan kondisi sebenarnya saat peristiwa terjadi.

"Foto jurnalistik itu juga ada takarir (caption). Keterangan foto ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari produk jurnalistik," tuturnya.

Di tengah krisis kejujuran visual saat ini, dengan dominasi teknologi AI dan manipulasi instan, foto jurnalistik memiliki peran penting untuk merekam fakta.

"Foto itu akan menjadi saksi dan perekaman sejarah. Peristiwa yang terjadi direkam melalui bidikan lensa, kemudian menghasilkan foto yang kita bagikan untuk menjadi informasi publik," ujarnya.

Ia tidak memungkiri bahwa sebuah foto dapat mengundang kepanikan di era digital saat ini, terutama ketika banyak orang mempercayai keaslian sebuah foto hanya berdasarkan jumlah like terbanyak di media sosial, padahal kebenarannya belum dapat dipastikan.

"Tipsnya, jika melihat sesuatu yang meragukan—baik berita maupun foto—kita harus mencari tahu kebenarannya. Kalau tidak ada media yang memberitakan, skip," tutur Hendra.

Dalam lokakarya itu, Hendra juga menampilkan beberapa foto dan meminta peserta untuk membedakan antara foto hasil AI dan foto asli.

Dari sesi tersebut, terlihat bahwa tidak sedikit peserta yang terkecoh dan menganggap foto AI sebagai foto asli.

Load More