- AJI Tanjungpinang dan PFI Sumatera menggelar lokakarya tentang etika foto jurnalistik di Politeknik Negeri Batam pada Sabtu, 19 September 2026.
- Hendra Syamhari dan M. Noor Kanwa menyampaikan materi mengenai tantangan kecerdasan buatan, pentingnya kejujuran visual, serta keaslian momen.
- Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas jurnalisme visual agar masyarakat mampu membedakan karya asli dan hasil manipulasi teknologi.
Narasumber berikutnya, M. Noor Kanwa, membahas materi mengenai "Jurnalistik Foto antara Teknologi dan Etika". Ia mengatakan bahwa foto jurnalistik wajib dilengkapi dengan keterangan foto yang memuat unsur 5W+1H.
"Keterangan foto ini biasanya terdiri atas dua kalimat. Kalimat pertama terkait dengan fotonya, sedangkan kalimat kedua berisi keterangan tambahan. Di dunia jurnalistik, keterangan foto ini wajib hukumnya," ujar Kanwa.
Ia melanjutkan, dalam menjalankan tugasnya, hal utama yang dikejar oleh seorang pewarta foto adalah momen.
"Momen adalah peristiwa atau kejadian yang ditangkap oleh kamera dan tidak dapat diulang untuk kedua kalinya," katanya.
Kemampuan fotografer dalam menangkap momen inilah yang menjadi pembeda.
"Pembuat foto bagus itu banyak, tetapi yang mendapatkan momen hanya orang-orang tertentu," tutur Kanwa.
Dalam pembahasannya, ia juga menegaskan bahwa perkembangan dunia fotografi tidak lepas dari penggunaan AI di era digital seperti saat ini. Kehadiran AI ikut mengubah total cara produksi foto jurnalistik.
"AI ini adalah alat bantu, bukan pengganti nurani jurnalis. Ada yang bilang 'biarkan foto berbicara'. Apakah AI bisa seperti itu?" ujarnya.
Ia juga menyinggung sejauh mana sentuhan digital AI diperbolehkan dalam jurnalistik foto.
"AI digunakan untuk mengimbangi keterbatasan teknis yang ada dalam proses fotografi digital agar hasilnya lebih akurat, tanpa mengubah makna dan arti foto tersebut," katanya.
"AI ini berfungsi sebagai alat penyuntingan teknis untuk koreksi warna, tetapi tidak untuk mengubah warna esensial, seperti mengubah warna rambut untuk keperluan manipulasi usia dan sebagainya," sambungnya.
Melalui lokakarya ini, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas jurnalisme visual serta memperkuat sinergi antara AJI, PFI, dan masyarakat dalam mengawal demokrasi melalui informasi visual yang benar.
Pada akhir acara, ditampilkan pula foto-foto dari buku foto jurnalistik berjudul Prahara Pulau Emas.
Buku tersebut memuat dokumentasi mengenai korban dan dampak bencana banjir di Aceh serta wilayah Sumatera lainnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- KPK Ungkap Riwayat Tanah Kavling Pesantren Darul Istiqamah Maros, Minta Hak Warga Dituntaskan
- Cegah Papua Jadi 'Sudan Kedua', Pemerintah Diminta Tarik Pendekatan Militeristik dan Buka Dialog
- 5 Eye Cream Kemasan Jar untuk Bikin Area Mata Tampak Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
Terkini
-
Hadapi Gempuran Hoaks Visual dan AI, PFI Tekankan Pentingnya Etika Foto Jurnalistik
-
Fesmed Selat Malaka 2026, Mengawal "Biaya Ekologis" di Tengah Gemerlap Investasi AI
-
Sebanyak 1.619 Debitur Telah Memperoleh Penyaluran KPP Bernilai Rp427,5 Miliar dari BRI
-
Linggis Ditangkap Terkait Bentrokan Berdarah Tewaskan 2 Orang di Batam
-
Ribuan Warga di Kepri Terjangkit ISPA, Madrasah Belajar dari Rumah Akibat Kabut Asap