Eko Faizin
Selasa, 29 September 2026 | 19:56 WIB
Ilustrasi tentara bayaran. [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Pemuda asal Natuna bernama Rendi tewas di medan perang sebagai tentara bayaran Rusia pada September 2026.
  • Rendi bersama tujuh warga Indonesia direkrut dari Filipina untuk bekerja dengan kontrak bergaji besar.
  • Jenazah korban belum dapat dievakuasi karena kondisi medan pertempuran yang sangat rawan di Ukraina.

SuaraBatam.id - Seorang pemuda asal Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna dikabarkan tewas di medan perang setelah menjadi tentara bayaran Rusia.

Rendi memulai karier di Natuna sebagai karyawan perusahaan telekomunikasi Indosat. Pada 2022, ia dipindah tugaskan ke Batam.

Tak lama kemudian, ia mengundurkan diri dan pergi ke Jawa. Dari sana, Rendi direkrut untuk bekerja di Filipina sebagai tenaga ahli instalasi listrik.

"Sejak 2022, Rendi memang tidak pernah pulang ke Natuna," ujar ibu almarhum, Eniyanti kepada Batamnews--jaringan Suara.com, Selasa (29/9/2026).

Sang ayah, Ruskamal juga sangat terpukul. Dengan suara berat, Ruskamal menuturkan perjalanan hidup anaknya hingga bisa sampai ke Rusia.

Ruskamal menambahkan, Rendi sempat kembali ke Indonesia, tetapi hanya singgah di Jakarta. Tak lama berselang, ia dan kawan-kawannya kembali menerima panggilan kontrak kerja ke Filipina.

Awal Februari 2026, telepon dari Rendi mengubah segalanya. Ia mengabarkan sedang berada di Rusia bersama tujuh orang Indonesia lainnya.

Mereka mendaftar sebagai tentara bayaran, meski hanya ditempatkan di bagian logistik.

"Kami kaget. Tapi Rendi menenangkan kami. Katanya mereka hanya direkrut untuk logistik, bukan untuk berperang," kata Ruskamal.

Orang tua Rendi mengaku mengetahui perekrutan itu. Mereka bahkan dimintai tanda tangan persetujuan dari pihak Rusia.

Tidak main-main, gajinya sekitar 600 juta rupiah untuk kontrak enam bulan.

 Saat ini, Rendi sedang menjalani periode kedua kontraknya. Ia berencana pulang ke Indonesia pada awal April 2027. Namun rencana itu tak akan pernah terwujud.

Pada 18 September 2026, Rendi masih menghubungi keluarga. Ia mengatakan akan dikirim ke garis depan pertempuran.

Untuk beberapa waktu, ia tidak akan bisa dihubungi. Sabtu malam, 26 September, kabar itu datang. Seorang rekan Rendi yang selamat mengabarkan bahwa 8 orang dari rombongan mereka gugur di medan perang.

Serangan drone tanpa awak milik Ukraina menghantam mereka. Rendi termasuk di dalamnya. Rekan yang selamat mengalami luka parah dan kini dirawat tim medis Rusia.

Load More