SuaraBatam.id - Keterbatasan solar di Tanjungpinang dikeluhkan oleh Ketua Kelompok Budidaya Nelayan Dompak Kepulauan Riau Zulkarnain.
"Ada nelayan yang tidak bisa membaca, ada juga nelayan yang kesulitan menemui pejabat yang berwenang. Itu yang membuat mereka malas mengurus izin sehingga kesulitan mendapatkan solar," kata Zulkarnain di Tanjungpinang, Rabu.
Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Tanjungpinang itu mengemukakan, birokrasi panjang untuk mendapatkan kuota solar juga membuat nelayan berpikir ulang untuk mengurus izin.
Nelayan tangkap misalnya, mereka harus mengurus ijin ke Syahbandar untuk mendapatkan rekomendasi. Kemudian surat itu dibawa ke Dinas Perikanan Tanjungpinang sebagai syarat memperoleh kuota solar.
"Nelayan harus memiliki kapal. Tidak boleh pinjam. Bagaimana dengan nelayan yang tidak mampu? Tentu terpaksa membeli solar eceran yang dijual dengan harga tinggi," kata dia.
Zulkarnain menambahkan, harga solar subsidi yang dijual kepada nelayan Rp6.500/liter. Sementara harga solar yang dijual eceran di kios mencapai Rp10.000. Nelayan yang tidak mendapatkan kuota solar bersubsidi terpaksa membeli solar eceran.
Kebutuhan solar subsidi untuk nelayan berbeda-beda, tergantung kapasitas kapal yang digunakan dan intensitas nelayan menangkap ikan. Contohnya, kapal dengan kapasitas 2 GT, kemungkinan membutuhkan solar minimal 60 liter/hari atau mungkin 1 ton/bulan.
Menurut dia, nelayan tradisional Tanjungpinang jarang menangkap ikan di perairan setempat. Melainkan melaut hingga ke sekitar Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga sehingga membutuhkan banyak bahan bakar.
"Beli solar di tempat resmi juga tidak boleh pakai drum. Harus membawa kapal yang digunakan nelayan tersebut," ujarnya.
Baca Juga: Warga Kampung Nelayan Tambakrejo Keluhkan Tumpukan Sampah Plastik
Selain nelayan tangkap, kata dia, di Tanjungpinang juga terdapat kelompok nelayan budidaya.
Ia menyampaikan, birokrasi perizinan untuk membuka usaha budidaya ikan sebenarnya tidak berbelit-belit, namun terkadang sulit menemui pejabat di kelurahan dan kecamatan sehingga membuat nelayan enggan mengurus izin.
"Izin domisili, buka usaha juga harus diketahui pihak kelurahan dan kecamatan. Tidak ada biaya, tetapi urusnya terkadang lama. Ini yang membuat nelayan kadang-kadang merasa jenuh untuk mengurus izin," katanya.
Di Tanjungpinang, terdapat sekitar 3 ribu orang dengan lebih dari 100 kelompok.
"Kami berupaya membantu para penyuluh dari pemerintahan untuk mendorong nelayan melengkapi administrasi. Ini berguna, salah satunya data dalam penyaluran bantuan," tuturnya.
Ia berharap Peringatan Hari Nelayan Nasional dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui birokrasi yang sederhana untuk mendapatkan kuota solar. Selain itu, aparat pemerintah yang berwenang juga dapat membantu perijinan melalui upaya jemput bola, tidak hanya sekadar menunggu di kantor.
Berita Terkait
-
Ditemukan Nelayan, Satu Korban KM Virgo Transport 8 Dievakuasi dalam Kondisi Meninggal
-
Kondisi Terkini Nelayan Ditabrak Kapal Kargo Panama di Selat Singapura
-
Spesifikasi Kapal Panama First Margaux yang Tabrak Perahu Nelayan di Selat Singapura
-
Kapal Kargo Panama Tabrak Kapal Nelayan China di Selat Singapura
-
Mengapa Suara Nelayan Penting dalam Pembangunan Giant Sea Wall di Teluk Jakarta?
Terpopuler
- Sah Nikahi Amanda Rigby, Ramalan Lama Hard Gumay Tentang Asmara Andre Taulany Jadi Kenyataan?
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- 5 Sneakers Empuk yang Cocok untuk Jalan Kaki, Ada Skechers hingga ASICS
- Gibran Diperkarakan di MK, Prabowo Nanti Bisa Ajukan 2 Nama Wapres ke MPR
Pilihan
-
Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban
-
Kru Kapal Rombongan Wartawan Peliput Gunung Anak Krakatau Ditemukan Meninggal
-
Tes DNA Cocok: Jenazah di Pulau Enggano Dipastikan Sukarman, ABK Kapal Rombongan Jurnalis Hilang
-
116 Orang Masih Dicari, Satu Lagi Korban KM Virgo 8 Ditemukan Nelayan
-
Siswa SD Tewas Tersedak Menu MBG, JPPI Soroti SOP Keamanan Makanan hingga Penanganan Darurat
Terkini
-
BRI Gelar InFrame 2026, Ajak Masyarakat Abadikan Wajah Ekonomi Kerakyatan
-
Pria di Anambas Ditemukan Tewas Dalam Rumah usai Cekcok dengan Istri
-
Warga Batu Aji Ngeluh Krisis Air, Rawat Mertua Stroke dengan Tisu Basah
-
Hadapi Gempuran Hoaks Visual dan AI, PFI Tekankan Pentingnya Etika Foto Jurnalistik
-
Fesmed Selat Malaka 2026, Mengawal "Biaya Ekologis" di Tengah Gemerlap Investasi AI