5 Fakta Penyakit Empty Sella Syndrome yang Diderita Ruben Onsu, Apakah Bisa Mengancam Jiwa?

Dalam sebuah tayangan video di Youtube MOP Channel, Ruben Onsu pun mengaku kerap dibayangi kematian karena mengidap penyakit tersebut.

Eliza Gusmeri
Rabu, 27 Juli 2022 | 17:00 WIB
5 Fakta Penyakit Empty Sella Syndrome yang Diderita Ruben Onsu, Apakah Bisa Mengancam Jiwa?
Ruben Onsu [instagram]

SuaraBatam.id - Selebriti Ruben Onsu saat ini tengah berjuang untuk melawan penyakit Empty Sella Syndrome yang dideritanya.

Dalam sebuah tayangan video di Youtube MOP Channel, Ruben Onsu pun mengaku kerap dibayangi kematian karena mengidap penyakit tersebut.

Lantas apakah penyakit Empty Sella Syndrome ini bisa mengancam kematian?

Berikut 4 fakta terkait Empty Sella Syndrome:

Baca Juga:Mengidap Penyakit Langka, Ruben Onsu Mengaku Takut Tidur karena Berpikir Tak Akan Bangun Lagi

1. Tidak Menyebabkan Kematian

Dikutip dari HopkinsMedicine, Empty Sella Syndrome atau ESS adalah gangguan yang membuat sella tursika, struktur tulang dimana ada kelenjar pituitari yang ada di dasar otak, menjadi membesar.

Ada dua jenis ESS, yakni primer dan sekunder. ESS primer lebih sering dialami oleh wanita obesitas dan memiliki tekanan darah tinggi. Bisa juga dikaitkan dengan penumpukan cairan di otak.

Sementara, ESS sekunder biasanya terjadi karena cedera, terapi radiasi, atau pembedahan.

Tetapi, perlu diingat penyakit ESS ini tidaklah mengancam jiwa atau menyebabkan kematian.

Baca Juga:Mengenal Penyakit Langka Empty Sella Syndrome yang Diidap Ruben Onsu, Bisakah Disembuhkan?

2. Gejala Bervariasi pada Masing-masing Orang

Di antaranya gejala penyakit ESS adalah impotensi pada pria dan kurang memiliki gairah untuk berhubungan seksual.

Sementara dalam wanita, biasanya mengalami haid yang tidak teratur.

Sehingga, ESS memiliki gejala yang bervariasi pada setiap orang. Juga bergantung pada usia berapa dan apa yang menyebabkan ESS ini terjadi.

3. Deteksi ESS Bisa Melalui CT Scan dan MRI

Diagnosis penyakit ESS ini bisa melalui dua cara, yakni menggunakan tes CT-scan dan MRI.

Tes CT-scan menggunakan sinar-X dan komputer untuk membuat gambar tubuh dan membantu menemukan masalah.

Sementara tes MRI menciptakan tampilan 2-D dari organ atau struktur internal, terutama otak atau sumsum tulang belakang.

4. Pakar Kesehatan Belum Mengetahui Penyebab ESS Primer

Meski tidak mengancam jiwa, tetapi pakar kesehatan belum mengetahui apa penyebab ESS primer.

Sementara, dalam pengobatannya, jika tidak memiliki gejala dan kelenjar pituitari tidak membesar, maka mungkin tidak memerlukan pengobatan yang serius.

Kontributor : Maliana

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini