facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Dianggap Bisnis Menjanjikan, DKP Kepri Dorong Nelayan Pesisir Budi Daya Rumput Laut

Eliza Gusmeri Jum'at, 01 Juli 2022 | 19:16 WIB

Dianggap Bisnis Menjanjikan, DKP Kepri Dorong Nelayan Pesisir Budi Daya Rumput Laut
Rumput laut Batam (foto: antara)

Untuk itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau (DKP Kepri) Tengku Said Arif Fadillah mendorong warga pesisir, khususnya yang bekerja sebagai nelayan.

SuaraBatam.id - Budi daya rumput laut disebut usaha yang cukup menjanjikan di Kepulauan Riau (Kepri) saat ini.

Untuk itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau (DKP Kepri) Tengku Said Arif Fadillah mendorong warga pesisir, khususnya yang bekerja sebagai nelayan untuk mengembangkan budi daya rumput laut.

"Bisnis rumput laut menjanjikan, apalagi wilayah pesisir Kepri memiliki potensi untuk dikembangkan rumput laut," kata Arif di Tanjungpinang, Jumat, melansir Antara.

Bisnis rumput laut belum merambah di pesisir Kepri. Budi daya rumput laut baru dikembangkan di Pulau Jaga, Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, dan Belakang Padang, Kota Batam.

Baca Juga: Tiga Nelayan Ditangkan TNI AL di Sibolga, Ini Kasusnya

Bisnis rumput laut di Belakang Padang mulai berkembang, meski harga komoditasnya masih rendah. Rumput laut jenis sargasum dalam bentuk kering yang berkembang di Belakang Padang sudah diekspor ke China, namun hanya Rp1.700/kg.

Dalam seminggu kelompok budi daya rumput laut itu dapat mengekspor rumput laut seberat 5 ton.

"Kami ingin nelayan sejahtera, tidak hanya sebagai nelayan tangkap, melainkan juga mendapatkan hasil dari pengembangan rumput laut," kata mantan Sekda Kepri itu.

Arif mengatakan budi daya rumput laut dapat dikembangkan oleh kelompok nelayan. Namun pemerintah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk mendorong nelayan lebih kreatif memanfaatkan potensi pesisir sebagai sumber pendapatan baru seperti budi daya rumput laut.

Salah satu yang memiliki peran penting yakni kepala desa. Di Kepri terdapat sedikitnya 72 pulau, yang potensial dikembangkan budi daya rumput laut seperti di Belakang Padang.

Baca Juga: Pemutihan Pajak Kendaraan dan Penghapusan Denda 100 Persen di Kepri Dimulai Hari Ini

Namun Arif menginginkan rumput laut yang dikembangkan jenis SL, bukan sargasum sehingga harganya lebih mahal. Pengembangan rumput laut dengan harga yang tinggi sudah dilakukan oleh kelompok nelayan di Bombana, Sulawesi Tenggara. Harga rumput laut yang sudah diolah menjadi tepung di daerah itu mencapai Rp32.000/kg.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait