Eko Faizin
Rabu, 30 September 2026 | 14:08 WIB
Seorang pemuda asal Natuna bernama Rendi Apriyanto (kiri) dikabarkan tewas setelah menjadi tentara bayaran Rusia dan menjadi sasaran serangan drone Ukraina. [Dok Batamnews]
Baca 10 detik
  • Pemuda Natuna bernama Rendi Apriyanto meninggal dunia setelah direkrut menjadi tentara bayaran di Rusia.
  • Rendi tergiur gaji fantastis demi mewujudkan niat mulia memberangkatkan kedua orang tuanya ibadah umrah.
  • Kabar kematian Rendi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta menghentikan rencana kepulangannya ke Indonesia.

SuaraBatam.id - Kisah pemuda asal Kabupaten Natuna, Rendi Apriyanto yang dikabarkan meninggal sebagai tentara bayaran Rusia menyimpan kepiluan yang diungkap langsung oleh keluarganya.

Ada niat mulia yang ingin diwujudkan Rendi yakni memberangkatkan kedua orang tuanya untuk umrah. Hal tersebut bisa jadi menjadi alasan tergiur iming-iming gaji fantastis Rp600 juta.

"Rendi kan anaknya hobi dan pandai otak atik motor, jadi pernah kami minta dia balek saja dan buka bengkel kecil kecilan, tapi jawabnya nanti saja, sekarang fokus untuk memberangkatkan umrah Ayah dengan Mak dulu," kenang Eniyanti, ibu Rendi dikutip dari Batamnews--jaringan Suara.com, Selasa (29/9/2026).

Namun, niat suci itu harus dibayar dengan jalan yang tak mudah.

Menurut ayah korban, Ruskamal, saat perekrutan, dirinya sempat dihubungi pihak Rusia untuk menandatangani sejumlah berkas sebelum Rendi resmi direkrut menjadi tentara di Rusia.

Setelah penandatanganan itu, Rendi sempat menunjukkan saldo di rekeningnya yang langsung terisi lebih dari Rp600 juta.

"Uang itu langsung masuk di rekening Rendi pak, anaknya sendiri yang menunjukan ke kami," kenang Ruskamal.

Gaji yang jauh lebih besar dibandingkan penghasilannya di Indonesia itulah yang disinyalir menjadi alasan utama Rendi dan tujuh kawan sesama warga Indonesia nekat pergi ke Filipina, lalu ke Rusia, untuk menjadi tentara bayaran.

Kontrak enam bulan dengan bayaran ratusan juta rupiah seolah menjadi jalan pintas mewujudkan impian keluarga.

Namun, kenyataan di lapangan tak seindah angka di rekening. Ruskamal mengakui bahwa mengirim sebagian uang tersebut ke keluarga bukanlah perkara mudah.

"Itulah pak, meskipun gajinya besar, tapi dari sana payah sekali ngirim uang ke sini. Beberapa kali Rendi kirim, tapi setelah itu rekeningnya terblokir, sementara tempat Rendi susah sinyal dan jauh dari bank, sehingga kadang kalau mau kirim uang itu terpaksa minta tolong komandannya yang punya mobil dan sering ke perkotaan. Namun Rendi harus memberi uang lebih ke komandanya tersebut hingga 30 juta," ungkap Ruskamal.

Hingga saat ini, uang yang berhasil dikirimkan Rendi ke keluarga telah dibayarkan untuk mendaftar umroh sebesar 60 juta rupiah. Sebuah wujud nyata dari mimpi yang ia perjuangkan di tengah medan perang.

Rendi diketahui saat ini telah menjalani kontrak keduanya sebagai tentara bayaran di Rusia, setelah kontrak pertama selama enam bulan berlalu.

Namun, dalam beberapa kali telepon, ia sudah sering mengatakan bahwa bulan April 2027 mendatang ia ingin pulang ke Indonesia dan tidak melanjutkan kontraknya lagi.

Harapan itu kini pupus. Kabar tewasnya Rendi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sekaligus membuka sisi lain dari fenomena pemuda Indonesia yang tergiur menjadi tentara bayaran.

Load More