- Pemuda asal Natuna bernama Rendi Apriyanto tewas di Rusia setelah direkrut menjadi tentara bayaran militer.
- Korban meninggal dunia akibat serangan drone Ukraina pada 20 September 2026 di tengah masa kontrak kerjanya.
- Orang tua korban membenarkan keikutsertaan anaknya dalam perang setelah menerima informasi dari rekan sesama tentara bayaran.
SuaraBatam.id - Seorang pemuda asal Kabupaten Natuna dikabarkan tewas setelah menjadi tentara bayaran Rusia dan menjadi sasaran serangan drone Ukraina.
Kabar meninggal warga bernama Rendi Apriyanto itu pertama kali mencuat dari unggahan status WhatsApp sejumlah mantan teman sekolahnya.
Haerul, salah satu teman korban, membenarkan kabar tersebut saat dikonfirmasi melalui WhatsApp. Ia mengaku mendapat informasi mengejutkan itu dari teman-teman korban yang lain.
"Rendi dulu teman masa kecil saya. Kami sama-sama tinggal di Ranai Darat, main kelereng bersama," ujarnya kepada Batamnews--jaringan Suara.com.
Hingga kini belum diketahui secara pasti bagaimana kronologi Rendi bisa sampai ke Rusia dan bergabung sebagai tentara bayaran, hingga akhirnya tewas dalam perang Rusia-Ukraina.
Sementara orang tua korban, Rustamal dan Eniyanti, membenarkan kabar duka tersebut. Mereka pun angkat bicara soal meninggalnya putra mereka sebagai tentara bayaran Rusia.
Orang tua Rendi mengaku mengetahui perekrutan itu. Mereka bahkan dimintai tanda tangan persetujuan dari pihak Rusia.
Bahkan, gaji Rendi tidak main-main yakni sekitar Rp600 juta untuk kontrak enam bulan.
Rustamal menceritakan, Rendi tewas di tengah berkecamuknya perang Rusia dan Ukraina.
Informasi itu mereka terima dari laporan rekan putranya yang juga berada di Rusia sebagai tentara bayaran di bagian logistik.
Dari kabar yang diterima, korban tewas pada 20 September 2026 lalu akibat serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina yang menyasar Moskow dan sejumlah wilayah Rusia lainnya.
"Iya, kami mendapat informasi awal dari rekannya yang sama-sama di Rusia pada Sabtu malam 26 September 2026. Rendi terkena serangan drone dari Ukraina sewaktu Rusia mengadakan pemilu. Di situlah terjadinya serangan drone itu. Di situ anak saya tidak bisa menghindar lagi, karena banyaknya drone," kata Rustamal.
Lebih lanjut, Rustamal mengatakan anaknya sudah sekitar lima bulan diduga bekerja sebagai tentara bayaran.
Rendi, katanya, diduga direkrut secara tidak resmi oleh agen untuk bekerja di bagian logistik militer Rusia.
Sebelum diketahui menjadi tentara bayaran Rusia, Rustamal menyebut putranya bekerja sebagai teknisi listrik di Filipina.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
Dikabarkan Tewas, Pemuda Natuna Jadi Tentara Bayaran Rusia Dikontrak Rp600 Juta
-
Gegerkan Warga, Siswi SMK di Bintan Ditemukan Meninggal Dalam Kamar
-
Jadi Tentara Bayaran Rusia, Warga Natuna Dikabarkan Tewas Kena Serangan Drone
-
Bantuan Sepeda dari BRI Peduli Antar Mahesa Lebih Dekat dengan Cita-Cita
-
2 Tewas dalam Bentrok di Setokok Batam, Polisi Didesak Usut Dalang Kerusuhan