Eko Faizin
Senin, 21 September 2026 | 13:52 WIB
Ilustrasi air bersih. [Ist]
Baca 10 detik
  • Frasta, warga Batu Aji Batam, kesulitan merawat mertuanya yang sakit stroke akibat pasokan air bersih terhenti total.
  • Ia telah melaporkan masalah ini kepada Air Batam Hilir serta RT dan RW, namun belum mendapatkan solusi bantuan.
  • Untuk bertahan, ia terpaksa mengambil air dari rumah saudaranya pada dini hari karena aliran air di sana kuat.

SuaraBatam.id - Seorang warga Batu Aji, Batam berjuang ekstra keras di tengah krisis air di wilayah tersebut. Ia harus merawat mertuanya yang terbaring lemah akibat stroke saat pasokan air yang terhenti total.

Ia adalah Frasta, warga Kavling Lama Permai. Dia mengeluhkan kondisi air bersih yang sulit untuk keperluan kebersihan sang mertua yang sakit.

"Saya ingin menyampaikan keluhan tentang air bersih yang mati di daerah tempat saya tinggal. Kondisi ini sangat menyulitkan, apalagi di rumah ada mertua saya yang sakit stroke. Saya hampir setiap hari harus memandikannya, tetapi karena air sering mati, saya sangat kesulitan untuk sekadar mencuci dan mandi," kata Frasta dikutip dari Batamnews--jaringan Suara.com.

Akibat keterbatasan air yang sangat ekstrem dalam beberapa hari terakhir, dia terpaksa menghentikan rutinitas memandikan mertuanya.

"Ini kondisi mertua saya sudah beberapa hari tidak dimandikan karena terbatasnya air. Saya akhirnya hanya bisa mengganti pampers dan mengelap badannya dengan tisu basah," tambahnya.

Upaya mencari jalan keluar bukannya tidak dilakukan.

Frasta mengaku telah melaporkan keluhannya kepada pihak Air Batam Hilir (ABH) serta perangkat RT dan RW setempat.

Ia berharap wilayahnya segera mendapat bantuan pasokan dari mobil tangki air bersih. Sayangnya, laporan itu hingga kini tidak membuahkan solusi.

Rasa putus asa sempat membuat Frasta mencegat mobil tangki air yang sedang mendistribusikan air di lingkungan sebelah.

Dia memohon kepada sopir tangki untuk menyalurkan sedikit air ke rumahnya. Namun, permohonan itu ditolak.

"Sopir mobil tangki menyatakan bahwa dia hanya mengantar pasokan air sesuai jatah RT. Saya sangat mengerti aturan tersebut, tetapi untuk kesekian kalinya saya meminta tolong, jikalau datang kembali, tolong airnya dilebihkan. Jika pun harus membayar, saya akan bayar karena saya sangat perlu air bersih untuk mertua saya," tegas Frasta.

Untuk bertahan, Frasta terpaksa mengandalkan rumah saudara yang jaraknya tidak terlalu jauh. Ia harus merelakan waktu istirahatnya demi mendapatkan beberapa ember air untuk kebutuhan dasar keluarga.

"Saya mengambil stok air dari rumah saudara pada jam 04.00 pagi, karena hanya di jam tersebut aliran airnya kuat," jelasnya.

Kondisi yang dialami Frasta menjadi potret nyata bahwa krisis air di Batam bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan krisis kemanusiaan yang membutuhkan respons darurat cepat dan empati dari pihak terkait.

Warga berharap pemerintah kota dan pengelola air bersih segera memberikan solusi nyata, terutama bagi keluarga dengan kebutuhan khusus dan mendesak.

Load More