Eko Faizin
Rabu, 30 September 2026 | 11:06 WIB
Ilustrasi - Patroli tentara Rusia di Mariupol Ukraina. [Foto: AFP]
Baca 10 detik
  • Pemuda asal Natuna bernama Rendi Apriyanto tewas di Rusia setelah direkrut menjadi tentara bayaran militer.
  • Korban meninggal dunia akibat serangan drone Ukraina pada 20 September 2026 di tengah masa kontrak kerjanya.
  • Orang tua korban membenarkan keikutsertaan anaknya dalam perang setelah menerima informasi dari rekan sesama tentara bayaran.

SuaraBatam.id - Seorang pemuda asal Kabupaten Natuna dikabarkan tewas setelah menjadi tentara bayaran Rusia dan menjadi sasaran serangan drone Ukraina.

Kabar meninggal warga bernama Rendi Apriyanto itu pertama kali mencuat dari unggahan status WhatsApp sejumlah mantan teman sekolahnya.

Haerul, salah satu teman korban, membenarkan kabar tersebut saat dikonfirmasi melalui WhatsApp. Ia mengaku mendapat informasi mengejutkan itu dari teman-teman korban yang lain.

"Rendi dulu teman masa kecil saya. Kami sama-sama tinggal di Ranai Darat, main kelereng bersama," ujarnya kepada Batamnews--jaringan Suara.com.

Hingga kini belum diketahui secara pasti bagaimana kronologi Rendi bisa sampai ke Rusia dan bergabung sebagai tentara bayaran, hingga akhirnya tewas dalam perang Rusia-Ukraina.

Sementara orang tua korban, Rustamal dan Eniyanti, membenarkan kabar duka tersebut. Mereka pun angkat bicara soal meninggalnya putra mereka sebagai tentara bayaran Rusia.

Orang tua Rendi mengaku mengetahui perekrutan itu. Mereka bahkan dimintai tanda tangan persetujuan dari pihak Rusia.

Bahkan, gaji Rendi tidak main-main yakni sekitar Rp600 juta untuk kontrak enam bulan.

Rustamal menceritakan, Rendi tewas di tengah berkecamuknya perang Rusia dan Ukraina.

Informasi itu mereka terima dari laporan rekan putranya yang juga berada di Rusia sebagai tentara bayaran di bagian logistik.

Dari kabar yang diterima, korban tewas pada 20 September 2026 lalu akibat serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina yang menyasar Moskow dan sejumlah wilayah Rusia lainnya.

"Iya, kami mendapat informasi awal dari rekannya yang sama-sama di Rusia pada Sabtu malam 26 September 2026. Rendi terkena serangan drone dari Ukraina sewaktu Rusia mengadakan pemilu. Di situlah terjadinya serangan drone itu. Di situ anak saya tidak bisa menghindar lagi, karena banyaknya drone," kata Rustamal.

Lebih lanjut, Rustamal mengatakan anaknya sudah sekitar lima bulan diduga bekerja sebagai tentara bayaran.

Rendi, katanya, diduga direkrut secara tidak resmi oleh agen untuk bekerja di bagian logistik militer Rusia.

Sebelum diketahui menjadi tentara bayaran Rusia, Rustamal menyebut putranya bekerja sebagai teknisi listrik di Filipina.

Load More