- Mahkamah Sesyen Ayer Keroh, Malaysia, menjatuhi hukuman 12 bulan penjara kepada WNI bernama Nurlela pada Selasa, 11 Agustus 2026.
- Terdakwa berusia 32 tahun asal Batam tersebut terbukti bersalah mempromosikan jasa pelacuran online melalui aplikasi MiChat di sebuah hotel.
- Hakim Rohatul Akmar Abdullah memutuskan vonis tersebut setelah terdakwa mengaku bersalah dalam persidangan dan masa tahanan dihitung sejak 29 Juli 2026.
SuaraBatam.id - Seorang perempuan berkewarganegaraan Indonesia, Nurlela dijatuhi hukuman penjara 12 bulan oleh Mahkamah Sesyen Ayer Keroh, Malaysia, Selasa (11/8/2026).
Wanita 32 tahun tersebut mendapat hukuman setelah terbukti mempromosikan jasa pelacuran melalui aplikasi MiChat.
Ia didakwa melanggar Seksyen 372(1)(e) Kanun Keseksaan yang mengatur eksploitasi seksual komersial, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, cambuk, dan denda.
Hakim Rohatul Akmar Abdullah menjatuhkan vonis tersebut setelah terdakwa mengaku bersalah dan memerintahkan masa tahanan dihitung sejak penangkapannya pada 29 Juli lalu.
Kasus MiChat ini bermula dari operasi tim Kepolisian Kontinjen Melaka di sebuah hotel di Jalan Tun Sri Lanang, Pengkalan Rama Tengah, pada 29 Juli sekitar pukul 20.35 WIB.
Melansir Batamnews--jaringan Suara.com, petugas menggeledah kamar hotel dan mengamankan Nurlela beserta ponsel yang digunakan untuk menawarkan layanan seks prostitusi online.
Dari pemeriksaan, akun MiChat milik terdakwa asal Batam itu digunakan untuk menawarkan jasa seksual dengan tarif RM130-RM250 (sekitar Rp430.000-Rp830.000) per layanan.
Dalam persidangan, Nurlela yang tidak didampingi pengacara memohon keringanan hukuman karena ini adalah pelanggaran pertamanya dan ia menjadi tulang punggung ibu di kampung halaman.
Namun, Timbalan Pendakwa Raya Nor Asnini Kamarudin menuntut hukuman setimpal sebagai efek jera, mengingat pasal tersebut mewajibkan pidana penjara.
Hakim pun memutuskan hukuman 12 bulan penjara terhitung sejak penangkapan. Usai vonis dibacakan, terdakwa terlihat menangis di ruang sidang.
Kasus ini menjadi pengingat bagi publik tentang jerat hukum bagi promosi prostitusi daring, sekaligus sorotan terhadap maraknya eksploitasi seksual yang memanfaatkan platform digital.
Berita Terkait
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Batam Dikepung Kabut Asap, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Karhutla di Kepri
-
Jabat Kabareskrim Polri, Kapolda Kepri Asep Safrudin Naik Pangkat Jadi Komjen
-
Kapolri Tunjuk Irjen Suhendri Jabat Kapolda Kepri Gantikan Irjen Asep Safrudin
-
Semangat Merah Putih di Asian Games 2026, BRI Dukung Kontingen Atlet Indonesia
-
Polda Kepri Ungkap Kasus Jual Beli Mesin Pesawat Bekas Senilai Rp30 Miliar