- Pemprov Kepulauan Riau memastikan tidak ada pengurangan pegawai PPPK meskipun belanja pegawai melebihi batas maksimal 30 persen.
- Sekda Kepri menyatakan kontrak PPPK tetap berlanjut hingga 2027 karena telah diakomodasi dalam anggaran pendapatan belanja daerah.
- Pemprov Kepri menangguhkan perekrutan CPNS baru akibat keterbatasan anggaran daerah untuk memaksimalkan jumlah ASN sesuai kebutuhan saat ini.
SuaraBatam.id - Pemprov Kepulauan Riau (Kepri) menanggapi terkait isu pengurangan ribuan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) di wilayahnya.
Pemprov Kepri memastikan tak ada pengurangan ribuan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), meskipun saat ini belanja pegawai sudah di atas batas maksimal 30 persen.
Sekda Kepri Misni menyebut Pemerintah Pusat telah memberikan relaksasi terhadap aturan batas maksimal belanja pegawai pemerintah daerah sebesar 30 persen.
"Namun, kita masih menunggu aturan tertulisnya, mudah-mudahan kebijakan pusat berpihak terhadap daerah," kata Misni dikutip dari Antara, Jumat (2/7/2026).
Sekda juga menegaskan kontrak PPPK, khususnya paruh waktu tetap berlanjut hingga 2027, demikian pula dengan pos belanja pegawai tersebut dipastikan terakomodir dalam APBD Kepri.
Dengan demikian, Misni meminta ASN PPPK tak perlu khawatir dan tetap fokus bekerja melayani masyarakat, karena sampai saat ini Pemprov Kepri tidak berencana melakukan pengurangan pegawai.
Selain itu, ia menekankan Pemprov Kepri untuk sementara menangguhkan perekrutan CPNS baru dampak keterbatasan anggaran belanja daerah.
"Kami tetap berupaya memaksimalkan jumlah ASN dengan beban kerja yang ada, karena untuk merekrut ASN baru harus menyesuaikan dengan kompetensi dan kemampuan keuangan daerah," ucap Misni.
Misni juga menyampaikan jumlah ASN di lingkup Pemprov Kepri saat ini belum memenuhi kebutuhan ideal.
Total potensi kebutuhan ASN Kepri sebanyak 24.770 orang, sementara yang ada sekarang baru terpenuhi 50 persen atau 12.534 orang, terdiri PNS dan PPPK.
Ke depan, kata dia, kebutuhan ASN Pemprov Kepri lebih didominasi untuk tenaga pendidikan, kesehatan termasuk infrastruktur.
Ia mencontohkan belakangan ini antusias orang tua yang menyekolahkan anaknya masuk SMK di Kepri semakin tinggi, bahkan pemprov harus menambah dua SMK baru di Kota Batam guna mengakomodir peserta didik baru.
"Dengan begitu, kebutuhan tenaga pendidik kejuruan di masa yang akan datang juga semakin tinggi, termasuk tenaga kesehatan dan teknis," tutur Misni.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
BRI Pastikan Seluruh Aktivitas Bisnis Dijalankan Transparan dan Hati-hati
-
Perkuat Ketahanan Ekonomi Purna PMI, BRI Peduli Gelar Pelatihan Wirausaha di Cirebon
-
Blackout di Kawasan Industri Batamindo: Aktivitas Lumpuh, Karyawan Libur Massal
-
Isu Data SPMB Bocor, Pemkot Batam Minta Orangtua Tak Panik: Pendaftaran Aman
-
Data SPMB Batam Diduga Bocor, Peneliti Anonymous Sudah Ingatkan Jauh Hari