SuaraBatam.id - Kasus kekerasan terhadap anak di Bintan, Kepulauan Riau meningkat tahun ini. Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Bintan mencatat 23 kasus kekerasan yang telah ditangani dalam delapan bulan terakhir(Januari hingga Agustus 2022).
Kekerasan yang dialami anak-anak tersebut beragam. Mulai dari kekerasan secara fisik, penganiayaan emosional atau pengabaian terhadap anak hingga korban kekerasan seksual.
Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2KB Bintan, Dewi Damayanti, mengatakan dari kasus yang ditangani, sebanyak 30 anak yang menjadi korban. Baik itu laki-laki maupun perempuan.
"Jadi selama 8 bulan itu sudah ada 30 korban. Mereka semuan anak-anak di bawah umur yang mengalami kekerasan termasuk seksual," ujar Dewi di Kantor Bupati Bintan, belum lama ini, dikutip dari Batamnews--jaringan suara.com.
Tahun ini kasus kekerasan terhadap anak dikhawatirkan mengalami kenaikan. Sebab di tahun lalu dari Januari-Desember hanya 35 korban yang ditangani. Namun sekarang baru 8 bulan sudah ada 30 korban dalam kasus ini.
Kasus tersebut paling banyak disumbangkan Kecamatan Bintan Utara. Kemudian juga ada di Kecamatan Bintan Timur dan daerah lainnya. Sementara untuk pelakunya rata-rata merupakan orang terdekat dan sering berinteraksi dengan korban.
"Ada yang pelakunya ayah tiri, pacar dan orang sekitar korban seperti saudara ataupun kerabat," jelasnya.
Dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak ini, kata Dewi, DP3KB Bintan tidak bekerja sendiri. Namun bekerjasama dengan beberapa pihak selain kepolisian Diantaranya dari Dinas Sosial (Dinsos) yaitu Pekerja Sosial (Peksos) dan Balai Pemasyarakatan (Bapas).
Bersama instansi-instnsi tersebut dilakukan assesmen untuk memenuhi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang digunakan dalam keperluan persidangan.
"Kalau dari kita memberikan konseling psikologis. Sebab kita memiliki tenaga ahli di bidang psikolog. Maka korban akan selalu didampingi hingga proses kasusnya selesai," katanya.
Ditanya penyebab meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak, Dewi mengaku pola asuh yang menjadi faktor utama dalam kasus tersebut. Dimana para orangtua membebaskan anak-anaknya menggunakan ponsel pintar atau gadget namun tanpa adanya pengawasan.
Akhirnya anak-anak membuka atau mengakses situs yang di luar umur mereka. Dampaknya situs itu mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka.
"Selama saya menangani kasus faktor utamanya itu anak-anak bebas menggunakan gadget. Mereka buka situs dewasa dan itu yang membuat mereka penasaran akhirnya terjadi yang tidak diinginkan," ucapnya.
Berita Terkait
-
Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak
-
Daycare Little Aresha Punya Siapa? Disorot Terkait Dugaan Kekerasan pada Anak
-
Geger Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta, Sadari 5 Perubahan Perilaku Anak Korban Kekerasan
-
Berkaca dari Kasus Little Aresha Yogyakarta, Ini 6 Cara Cek Izin Resmi Daycare
-
Miskinkan Bandar Ko Erwin, Bareskrim Bidik Pasal TPPU dan Sita Aset Rumah hingga Ruko!
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
WNA Belanda di Batam Ditemukan Tewas di Rumah, Darah Mengalir hingga Teras
-
BRI Konsisten Dorong Pemberdayaan Perempuan di Seluruh Indonesia, Ekonomi Inklusif di Hari Kartini
-
Fokus ESG, BRI Perkuat Peran Keuangan Berkelanjutan untuk Pertumbuhan Jangka Panjang
-
Perempuan BRI Bersinar, Tiga Penghargaan Diraih di Ajang Infobank 2026
-
Pemprov Kepri Investigasi Kasus Ratusan Siswa Keracunan MBG di Anambas