SuaraBatam.id - Pemerintah Malaysia mewanti-wanti menghadapi gelombang ketiga Covid-19 di negara itu. Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin memprediksi bisa mencapai 15 ribu kasus.
Namun di Malaysia, menurut dia masih banyak warga usia lanjut yang belum mendapatkan suntikan booster.
"Sekarang menuju gelombang Omicron penuh. Kasus akan mencapai 15 ribu tidak lama lagi. Masih ada satu juta warga usia lanjut yang tidak mendapat dosis booster," ujar anggota parlemen Daerah Pemilihan Rembau tersebut melalui tweet-nya, Sabtu (6/2/2022).
Politikus UMNO tersebut meminta kepada para orang tua agar segera mendapatkan suntikan booster.
"Tolong sampaikan kepada orang-orang tua kesayangan anda untuk mendapat dosis booster dengan segera," katanya.
Dia mengatakan walaupun vaksin bisa mengurangi penularan, namun tujuan utama vaksin Covid-19 adalah mengurangi keseriusan gejala.
"Dengan booster perlindungan Anda dari pada gejala serius yang bisa menyebabkan masuk ke rumah sakit atau ICU akan lebih baik," katanya.
Khairy juga sependapat dengan pandangan Direktur Institut Riset Klinik (ICR) NIH Kementrian Kesehatan Malaysia Kalai Peariasamy.
Riset di Malaysia menunjukkan lebih 90 persen perlindungan terhadap penularan Covid-19 dari vaksin primer dan dosis booster dibanding dua dosis lengkap.
Baca Juga: Kasus Positif Covid-19 di Bekasi Lampaui Puncak Delta, Tingkat BOR Capai 49 Persen
"Perlindungan vaksin heterologous (dua kali Sinovac plus Pfizer) lebih tinggi dibanding vaksin homologous (tiga kali Sinovac."
Sementara itu pada 6 Februari 2022 jumlah kasus Covid-19 dilaporkan adalah 10.089 kasus sehingga menjadikan jumlah kumulatif sebanyak 2.914.220 kasus.
Dirjen Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah mengatakan dari jumlah tersebut sebanyak 77 kasus (0.76 persen) kategori tiga, empat dan lima. Sedangkan 10.012 kasus (99.24 persen) kategori satu dan dua.
Kategori satu adalah pasien tidak bergejala, kategori dua bergejala ringan, kategori tiga menderita radang paru-paru yang memerlukan perawatan di rumah sakit, kategori empat memerlukan bantuan oksigen dengan rata-rata perawatan di ICU 14 hari.
Sedangkan kategori lima adalah pasien kritis dan memerlukan bantuan pernapasan dengan rata-rata perawatan di ICU selama 21 hari.
Tag
Berita Terkait
-
Raja Malaysia Minta Sekolah Ditutup Jika Pencemaran Udara Kebakaran Hutan Makin Parah
-
Kabut Asap Diduga Batasi Jarak Pandang di Malaysia, Tiga Orang Tewas Kecelakaan
-
Tragis! Sekolah Tutup karena Kabut Asap, Tiga Kakak Beradik Tewas Kecelakaan Saat Pulang
-
Viral Turis Indonesia Kasih Makan Rusa di Jepang Pakai Sampah Plastik, Sempat Dikira Warga Malaysia
-
Asap Karhutla Indonesia Makin Parah, Ratusan Sekolah di Malaysia Tutup!
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Menyakitkan Para Pencari Kerja, Guru Besar UGM: Perbuatan Gibran Tercela, Harus Diselesaikan
- Profil Suhartoyo, Ketua MK yang Menolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
BRI Hadirkan Pilihan Investasi ESG untuk Dukung Tujuan Keuangan Jangka Panjang
-
Lion Air Rute Batam-Jambi Batal Terbang Gegara Kabut Asap
-
BRI Peduli Latih 500 Volunteer Jelang MotoGP Mandalika 2026, Dorong Lingkungan Berkelanjutan
-
BRI Perkuat Tata Kelola Dengan Budaya Integritas dan Antikorupsi
-
Rekam Jejak Mayjen TNI Rionardo, Panglima Pertama Kodam XXV Kepri