Hang Nadim beserta prajurit yang tersisa terpaksa pulang tanpa membawa kabar kemenangan. Namun, beberapa tahun kemudian, Sultan Mahmud kembali mengirim prajurit dan armada perangnya ke Malaka dengan taktik mengepung tentara Portugis dari laut dan darat.
Serangan Kerajaan Malaka kali ini dipimpin oleh Paduka Tuan sebagai panglima perang, sementara Hang Nadim didapuk kembali sebagai laksamana armada laut dan Nara Singa sebagai panglimanya pasukan darat.
Nara Singa beserta pasukan angkatan darat lebih dulu turun dan mengepung beberapa basis pertahanan Portugis dari dua arah, yaitu dari Pagoh dan Muar. Sementara Hang Nadim dan armada laut tetap berlayar mengepung melalui pesisir Malaka. Di pertempuran ini, pihak Kerajaan Malaka cukup banyak kehilangan prajurit. Maka, Panglima Paduka Tuan mengirim utusan kembali ke Kota Kara untuk meminta pasukan tambahan pada Sultan Mahmud.
Singkat cerita, serangan kedua dari Kerajaan Malaka itu sempat membuahkan hasil. Benteng A Famosa sempat berhasil diisolasi oleh Hang Nadim dan pasukannya yang menyerang dari jalur pesisir.
Namun, menurut perhitungan dari Panglima Paduka Tuan, Hang Nadim dan Nara Singa baru dapat menguasai Benteng A Famosa sepenuhnya jika bantuan pasukan tambahan dari Kota Kara sudah bergabung bersama mereka.
Padahal bala bantuan Portugis dari pangkalan militer yang berbasis di Pegu saat ini Birma alias Myanmar lebih dulu sampai di Malaka dari pada pasukan tambahan Kerajaan Malaka. Pasukan Portugis pun menyerang benteng pertahanan sementara Nara Singa yang ada di Pagoh hingga merembet ke Malaka yang diisolasi Hang Nadim.
Pertempuran sengit pun tak terelakkan, sementara pasukan tambahan Kerajaan Malaka yang baru datang juga dibuat kewalahan menghadapi Portugis di pesisir. Alhasil, pasukan Melayu pun kocar-kacir lagi dan mereka gagal merebut Malaka dari Portugis untuk kedua kalinya.
Laksamana Hang Nadim yang berhasil lolos dan dikaruniai umur panjang pada tahun-tahun berikutnya kembali berusaha melakukan serangan ke Portugis di Malaka, tetapi selalu gagal. Kegagalan yang terus diterima oleh Hang Nadim beserta prajuritnya itu karena kalah dalam aspek persenjataan dan kuatnya Benteng A Famosa. Dibandingkan persenjataan dari Kerajaan Malaka, di masa itu senjata perang yang dimiliki oleh Portugis lebih canggih.
Namun, Sultan Mahmud sebagai pemimpin Kerajaan Malaka tak berputus asa ingin mengusir Portugis dari Malaka. Maka Sang Sultan pun memerintahkan Laksamana Hang Nadim untuk mengacaukan distribusi logistik di jalur perdangangan di selat Malaka dengan cara menghadang dan merompak kapal-kapal yang hendak berlabuh di Malaka. Dengan begitu, pelabuhan di Malaka akan sepi dan membuat Portugis hengkang sendiri dari sana.
Baca Juga: Petugas Kesehatan di Batam Sudah Satu Bulan Jalankan Bisnis Surat Covid-19 Palsu
Punya Julukan Lang-lang Laut Hingga Kerajaan Malaka Berakhir
Laksamana Hang Nadim dalam mengabdi pada Kerajaan Malaka juga mendapat julukan sebagai Lang-lang Laut. Julukan itu disematkan kepadanya karena tugasnya berpatroli mengamankan wilayah selat Kerajaan Malaka. Selain itu juga ada burung elang yang selalu menemani di kapal Hang Nadim saat berlayar.
Portugis yang masih memiliki kekuatan besar pada masa itu terus melakukan ekspansi wilayah kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan berhasil menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Malaka di Kota Kara. Sultan Mahmud pun tak bisa mengelak dari pertempuran menghadapi serbuan pasukan Portugis yang sebagian tentaranya sudah ada orang Melayu.
Sang Sultan yang berhasil menyelamatkan diri bersama keluarganya beserta aset penting kerajaan seperti pusaka, perak, dan emas sebelum pasukan Portugis membumihanguskannya. Berkat bantuan orang-orang dari Suku Pedalaman dan Orang Sakai, Sang Sultan dapat mengevakuasi keluarga dan aset kerajaannya sampai di daerah Kampar.
Di Kampar, Sang Sultan sempat kembali mengelola dan membina sisa-sisa pengikut setia kerajaan dan keluarganya. Namun, tak lama kemudian Sang Sultan pun wafat dan tampuk kepemimpinan kerajaannya digantikan oleh putra beliau, yakni Raja Ali yang juga bergelar Raja Alauddin. Kelak pewaris Kerajaan Malaka itu mendirikan Kerajaan Johor dan mendapatkan gelar Sultan Alauddin Riayat Shah II.
Laksamana Hang Nadim yang memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Malaka sebagai abdi prajurit lautnya tetap punya rasa khidmat dan mengakui Sultan Alauddin Riayat Shah II dalam memerintah Kerajaan Johor. Khidmat Hang Nadim dan jabatan Laksamana terus dia sandang hingga masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Shah II.
Tag
Berita Terkait
-
Sejarah Jembatan Barelang: Dibangun Zaman Soeharto Hingga Dikaitkan Raja Melayu Riau
-
Kerajaan Kutai dan Peninggalan Unik Selain Prasasti
-
Sejarah Kesultanan Pontianak: 8 Sultan, Peninggalan dan Penyebab Runtuhnya Kerajaan
-
Museum Raja Ali Haji Simpan Koleksi Sejarah Batam dari Nol
-
Siapa Sangka, Makanan Betawi Gado-gado Ternyata Terpengaruh Budaya Portugis
Terpopuler
- Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 6 Sepatu Slip On Tanpa Tali Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Harga Mulai Rp120 Ribuan
Pilihan
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
Terkini
-
Bantuan Sepeda dari BRI Peduli Antar Mahesa Lebih Dekat dengan Cita-Cita
-
2 Tewas dalam Bentrok di Setokok Batam, Polisi Didesak Usut Dalang Kerusuhan
-
BRI Gelar InFrame 2026, Ajak Masyarakat Abadikan Wajah Ekonomi Kerakyatan
-
Pria di Anambas Ditemukan Tewas Dalam Rumah usai Cekcok dengan Istri
-
Warga Batu Aji Ngeluh Krisis Air, Rawat Mertua Stroke dengan Tisu Basah