SuaraBatam.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, jika manusia tidak mengubah cara berinteraksi dengan hewan dan mengatasi perubahan iklim, maka krisis lain akan segera datang. Menariknya, virus Corona (Covid-19) tidak akan menjadi pandemi terakhir yang dihadapi dunia dalam waktu dekat.
Hal ini disampaikan Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dia membuat peringatan tersebut ke dalam pesan video yang menandai International Day of Epidemic Preparedness pertama. Dr Ghebreyesus mengatakan, dunia harus belajar dari pandemi Covid-19 yang mematikan.
"Kita mengeluarkan banyak uang saat terjadi wabah dan ketika sudah berakhir, kita melupakannya dan tidak melakukan apa pun untuk mencegah wabah berikutnya. Ini sangat picik dan terus terang sulit untuk dipahami," kata Dr Ghebreyesus, seperti dikutip Mirror, Jumat(1/1/2021).
Dr Ghebreyesus menambahkan bahwa pandemi telah menyoroti hubungan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan Bumi sendiri.
"Sejarah memberi tahu kita bahwa ini tidak akan menjadi pandemi terakhir. Setiap upaya untuk meningkatkan kesehatan manusia akan gagal, kecuali kita mengatasi interaksi krisis antara manusia dan hewan serta ancaman perubahan iklim, yang membuat Bumi kita kurang layak huni," tambah Dr Ghebreyesus.
Selain itu, semua negara juga harus berinvestasi dalam kapasitas kesiapsiagaan untuk mencegah, mendeteksi, dan mengurangi segala jenis keadaan darurat serta menyediakan perawatan kesehatan primer yang lebih kuat. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan hari internasional untuk mempromosikan pentingnya pencegahan, kesiapsiagaan, dan kemitraan dalam menangani epidemi.
Dr Ghebreyesus pun baru-baru ini, mengomentari keberadaan mutasi virus Corona baru yang melanda Inggris dan Afrika Selatan. Dilaporkan pertama kali muncul di Inggris Tenggara dan dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah, para ilmuwan memperingatkan kekhawatiran bahwa varian baru itu lebih ganas daripada strain aslinya.
Meski begitu, Dr Ghebreyesus mengomentari tidak ada bukti strain baru tersebut lebih mungkin menyebabkan penyakit parah atau kematian. Pemerintah Inggris dan kepala pengembang vaksin Pfizer juga percaya vaksinnya cukup efektif untuk melawan varian baru tersebut.
Kepala WHO memperingatkan awal bulan ini bahwa vaksinasi yang meluas masih belum cukup untuk menghentikan penyebaran virus. Untuk mengakhiri pandemi, negara-negara masih perlu melanjutkan pengawasan virus, pengujian, melakukan isolasi dan merawat kasus yang terdeteksi, melacak dan mengkarantina, hingga menyerukan peringatan kesehatan.
Baca Juga: Ciptakan SANRISE, Kampung Berseri Astra Burasa Melawan Covid-19
Berita Terkait
-
6 WNI Pekerja Kapal Ikan China Dipulangkan, Satu Sudah Tak Bernyawa
-
Belajar dari Rumah Selama Pandemi, Pelajar Ini Tak Tahu Isi Sekolah Barunya
-
Bertahan di Tengah Pandemi, Rendang Hj Fatimah Keliling Indonesia Pakai JNE
-
Dampak Covid-19, Pelayanan Keimigrasian di Jogja Turun Lebih dari 50 Persen
-
Covid-19: Kisah Penyintas yang Melawan Stigma Buruk Masyarakat
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Riset CELIOS: Purbaya Jadi Menteri Kinerja Terbaik, Bahlil Paling Buruk
Pilihan
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
Terkini
-
PLN Batam Diapresiasi atas Respons Cepat, BP Batam Turun Langsung Dampingi Dunia Usaha
-
Viral Blackout Batam Selama 3 Hari Disengaja, PLN Buka Suara
-
Batam Blackout: Penyebab Diduga Hewan Liar Masuk Gardu, PLN Siapkan Kompensasi
-
Pemadaman Listrik Total, Harga Kamar Hotel di Batam Tembus Rp34 Juta per Malam
-
Batam Blackout, Baru Sejumlah Wilayah Menyala Setelah 14 Jam Tanpa Listrik