SuaraBatam.id - Senjata dari tulang manusia berusia sekitar 11.000 tahun yang dibuat oleh pemburu Zaman Batu ditemukan para ilmuwan.
Pemburu tersebut tinggal di Doggerland, wilayah yang saat ini berada di bawah Laut Utara yang menghubungkan Eropa ke Inggris.
Pada akhir zaman es terakhir, ketika permukaan laut lebih rendah, wilayah itu dihuni oleh kawanan hewan dan manusia.
Meskipun hewan dan pemukiman itu sudah tidak ada, namun jejak artefak dan budaya termasuk senjata tulang sering ditemukan di Belanda.
Analisis terhadap 10 senjata tulang yang ditemukan mengungkapkan bahwa delapan dari senjata tersebut berasal dari tulang dan tanduk rusa merah (Cervus elaphus) dan dua senjata dibuat dari tulang manusia.
"Ini bahkan tidak ada dalam mimpi terliar saya akan menemukan senjata tulang manusia di antara tulang rusa," kata Joannes Dekker, ketua ilmuwan dan mahasiswa Master arkeologi di Universitas Leiden, seperti dikutip Live Science pada Sabtu (26/12/2020).
Masih menjadi misteri mengapa senjata yang dikenal sebagai barbed points diukir dari tulang manusia.
Tim ilmuwan tidak dapat memberikan hipotesis karena bagaimanapun tulang manusia sulit didapat dan bukan bahan yang bagus untuk membuat senjata tajam.
"Mungkin ada aturan budaya tentang spesies apa yang akan digunakan untuk membuat barbed points," tambah Dekker.
Baca Juga: Ngenes! Ilmuwan Temukan Anjing dari Zaman Batu Terkubur Bersama Pemiliknya
Menurut penanggalan radiokarbon, senjata tulang yang baru ditemukan ini bertanggal antara 11.000 dan 8.000 tahun lalu, selama Mesolitikum atau Zaman Batu Pertengahan.
Dekker dan tim ilmuwan juga menemukan bahwa senjata tulang ini diukir segera setelah kematian orang tersebut karena tulang manusia segar lebih mudah diukir.
Selain itu, juga tidak jelas dari anatomi mana tulang tersebut berasal. Namun kemungkinan penggunaan tulang kaki atau lengan yang panjang, mengingat ukuran senjata.
Ada hampir 1.000 senjata tulang yang diketahui dari Doggerland. Beberapa senjata memiliki panjang sekitar 9 sentimeter dan memiliki banyak cara penggunaan, seperti dilempar seperti lembing, diluncurkan seperti anak panah, atau ditusuk bagai tombak.
Dekker mengatakan bahwa artefak-artefak ini terdampar di pantai Belanda selama bertahun-tahun dan jumlahnya baru meningkat selama beberapa dekade terakhir ketika Belanda mulai mengeruk dasar laut untuk membantu memperkuat garis pantai.
Berita Terkait
Pilihan
-
Badan Geologi Ungkap Kondisi Anak Krakatau Terkini: Tak Ada Potensi Runtuh Picu Tsunami
-
Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo
-
Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Terdeteksi hingga Bandung, BMKG Ungkap Dua Klaster
-
Gemuruh Erupsi Gunung Anak Krakatau Terdengar Hingga Pesisir Pandeglang: Bikin Rumah Bergetar
-
Muncul Kubah Lava Baru di Gunung Anak Krakatau, PVMBG Jawab Kekhawatiran Potensi Tsunami
Terkini
-
5 Penerbangan di Bandara Hang Nadim Batam Batal Buntut Erupsi Anak Krakatau
-
Lewat Kinerja Triwulan II 2026, BRI Cetak Laba Rp31,2 Triliun dan Perkuat Ekonomi Kerakyatan
-
Hampir 10 Tahun Terpisah, BRI Wujudkan Momen Haru Yuni Bertemu Sang Ibu di Taiwan
-
BRImo Taiwan Resmi Hadir, BRI Perkuat Layanan Perbankan bagi PMI dan Diaspora
-
BRI Group Borong Enam Penghargaan Finance Asia, dari Best CEO hingga Best Bank