SuaraBatam.id - Beberapa waktu lalu, istilah happy hypoxia ramai dibicarakan publik lantaran banyak dialami oleh pasien Covid-19. Istilah medis itu digunakan untuk menandai kurangnya kadar oksigen dalam darah meski pasien Covid-19 tidak mengalami sesak nafas.
"Mestinya kalau kurang oksigen dalam darah orang akan sesak, tapi ini tidak terjadi pada beberapa pasien Covid-19. Karena diketahui pada kondisi itu ada saraf yang menghambat sensor sesak ke otak," papar spesialis paru dr. Erlina Burhan Msc, SP.P (K) dalam webinar bersama BNPB, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Erlina menjelaskan bahwa sensor yang terhambat akibat infeksi virus menyebabkan otak tidak bisa mengenali bahwa ada kejadian kurang oksigen dalam darah. Pada orang normal, otak akan menerima sinyal bahwa tubuhnya tengah kekurangan oksigen.
Otak biasanya akan memberikan perintah kepada tubuh untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan cara bernapas cepat. Kondisi itu yang membuat seseorang akan terlihat sesak nafas.
Tapi pada beberapa pasien Covid-19, mereka tidak mengalami sesak nafas karena adanya kerusakan pengiriman sinyal ke otak, jelas Erlina.
"Sebetulnya ini sudah lama, kira-kira ada jurnal yang menyebutkan itu terjadi pada April atau Mei. Dulu disebutnya silent hypoxia. Dulu ada kejadian seseorang yang usia 60 tahun, laki-laki yang bergejala karena Covid-19 dan lama-kelamaan batuknya makin bertambah. Tapi anehnya pasien tidak sesak," ucapnya.
"Saat diperiksa ternyata saturasi oksigen dalam darah hanya sekitar 60 persen, ini rendah sekali. Orang normal oksigen dalam darah berkisar antara 95 sampai 100 persen. Pasien ini hanya 60 sampai 70 persen tapi tidak menimbulkan gejala sesak," tambah Erlina lagi.
Ia menyampaikan, hypoxia hanya akan dialami oleh pasien Covid-19 yang bergejala terutama batuk yang menetap. Ia menjelaskan, jika terdapat batuk artinya infeksi telah sampai ke paru-paru.
"Kita tahu kalau pertukaran oksigen dengan CO2 itu di paru-paru. Oksigen ini masuk kedalam darah karena kerusakan di paru, sehingga oksigen yang masuk berkurang," ucapnya.
Baca Juga: Kemungkinan Penyebab Happy Hypoxia, Komplikasi Covid-19 yang Baru Muncul
Jika darah yang beredar di tubuh kekurangan oksigen, maka suplai ke seluruh organ juga akan kekurangan oksigen.
Saat itu terjadi makan tubuh pasien akan semakin lemah. Dokter di RSUP Persahabatan Jakarta itu juga menyampaikan bahwa pasien hypoxia hanya membutuhkan oksigen dan harus segera dibawa ke rumah sakit.
"Ini salah satu gejala yang harus kita waspadai dan biasanya kalau sudah terjadi hypoxia dalam waktu cukup lama pasien akan mengalami kesadaran menurun. Penurunan kesadaran dan biasanya akan fatal akibatnya," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
-
Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
Terkini
-
UMKM Desa Sumowono Semarang Berkembang Pesat Berkat Program Desa BRILiaN BRI
-
BRI Hadirkan Solusi Pembiayaan UMKM Lewat Desa BRILiaN di Desa Wisata Hendrosari Gresik
-
Bertransformasi Positif, Desa BRILiaN Tompobulu Mampu Jadi Sumber Ekonomi Rakyat
-
Waspada El Nino, Natuna Tanggap Darurat Bencana Cuaca Ekstrem
-
Desa Empang Baru Tumbuh Dinamis Lewat Ragam Usaha dan Kolaborasi Warga