Waspada, Penyakit DBD Meningkat di Tanjungpinang

Kasus tertinggi terjadi pada bulan Juni sebanyak 41 kasus.

Eliza Gusmeri
Rabu, 24 November 2021 | 17:52 WIB
Waspada, Penyakit DBD Meningkat di Tanjungpinang
Kasus demam berdarah (DBD) meningkat di Tanjungpinang (foto: antara)

SuaraBatam.id - Kasus demam berdarah (DBD) meningkat di Tanjungpinang. Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), mencatat 315 kasus demam berdarah (DBD) sepanjang Januari hingga November 2021.

Kasus tertinggi terjadi pada bulan Juni sebanyak 41 kasus.

Kelurahan Pinang Kencana tercatat sebagai daerah dengan kasus terbanya atau mencapai 53 kasus, Kilometer IX sebanyak 47 kasus dan disusul Tanjung Ayun Sakti sebanyak 43 kasus.

"Pada bulan November ini tercatat sebanyak 23 kasus. Mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kasus bulan sebelumnya tercatat sebanyak 39 kasus," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Tanjungpinang, Sri Handono, Rabu.

Baca Juga:Satu Pasien Sembuh, Tanjungpinang Nol Kasus Covid-19

Penyebab tingginya kasus DBD dikatakan Sri karena curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir berpotensi menjadi ancaman tersendiri bagi warga khususnya terkait penyakit demam berdarah.

Pihaknya meminta warga waspada terhadap penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti ini.

"Jangan lengah, mengingat sekarang ini lagi musim penghujan," ujarnya.


Perubahan Iklim Bukan Satu Penyebab

Sri menjelaskan bahwa kondisi perubahan iklim atau di musim penghujan bukan penyebab utama. Menurutnya, yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan dan perilaku masyarakat.

Baca Juga:Peringatan Pengusaha, UMK Tanjungpinang 2022 Ditetapkan Paling Lambat 30 November

"DBD adalah penyakit yang berbasis perilaku masyarakat. Bagi yang tidak bisa menjaga kebersihan lingkungan dan tidak bisa menjaga perilaku hidup sehat, maka penularan bisa terjadi dengan mudah," ungkapnya.

Lanjut dia upaya preventif yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengatasi masalah demam berdarah adalah aktif melakukan perilaku hidup sehat serta menjalankan 3M (menguras, menutup, dan mengubur).

Jika pemukiman perumahan tidak bisa mengubur sampah, maka bisa mendaur ulang atau membuang ke tempat pembuangan sampah yang telah ditentukan.

"Supaya tak ada lagi sisa-sisa tumpukan kaleng, sisa bekas cat, dan ember yang berpotensi jadi tempat sarang nyamuk DBD," katanya. (antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono, Apa Layak Dilaporkan Polisi?
Ikuti Kuisnya ➔
Cek Prediksi Keuangan Kamu Tahun Depan: Akan Lebih Cemerlang atau Makin Horor?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Kamu di 2026 Siap Glow Up atau Sudah Saatnya Villain Era?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini