- Kota Batam diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang menurunkan jarak pandang pada Kamis pagi.
- BMKG dan IQAir melaporkan konsentrasi partikel halus PM2.5 menempatkan kualitas udara Batam dalam kategori tidak sehat.
- Masyarakat Batam, terutama kelompok rentan, disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan serta memakai masker pelindung khusus.
SuaraBatam.id - Kota Batam masih diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Kamis (15/10/2026) pagi. Jarak pandang pun menurun akibat kabut yang menyelimuti wilayah tersebut.
Sejumlah bangunan tinggi dan kawasan permukiman tampak samar di balik lapisan jerebu. Kondisi ini sejalan dengan data pemantauan kualitas udara yang menunjukkan tingginya konsentrasi partikel halus.
Berdasarkan data BMKG pada pukul 06.00 WIB, konsentrasi partikel halus PM2.5 di Batam mencapai 98,6 mikrogram per meter kubik (µg/m3).
Melansir Batamnews--jaringan Suara.com, angka tersebut menempatkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat.
Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Laporan serupa juga ditunjukkan oleh platform pemantau kualitas udara IQAir.
Pada pukul 07.34 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di Batam tercatat sebesar 103. IQAir mengategorikan kondisi tersebut sebagai tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 36,3 µg/m3.
Prakiraan per jam dari platform tersebut memperkirakan indeks kualitas udara berada di kisaran 103 hingga 104 setidaknya sampai pukul 11.00 WIB.
Tingginya konsentrasi partikel halus di udara perlu menjadi perhatian masyarakat.
Kabut asap yang menyelimuti kota bukan hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan polutan.
Masyarakat Batam, khususnya anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator N95 atau KN95, serta menghindari kegiatan fisik berat di luar ruangan.
Warga juga dapat memantau perkembangan kualitas udara melalui kanal resmi BMKG dan platform pemantau kualitas udara untuk menyesuaikan aktivitas sehari-hari.
Masyarakat diimbau tetap berhati-hati dan mengutamakan kesehatan selama kondisi tersebut berlangsung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
Terkini
-
Warga Batam Diminta Waspada: Kualitas Udara Memburuk, Jarak Pandang Terbatas
-
Bahlil Ungkap Penyebab Blackout PLN Batam: Kemungkinan Kelelawar
-
BRI Borong 36 Penghargaan TBCCI 2026 Berkat Inovasi Layanan BRImo dan Sabrina
-
Blackout Batam, Bahlil Ungkap Dugaan Penyebab dan Buka Opsi Kompensasi
-
Warga Nongsa Unjuk Rasa, Protes Air Rumah Mati Tapi di Data Center Mengalir