- Festival Media Selat Malaka 2026 di Batam membahas ekspansi pusat data AI yang memerlukan pengawasan komprehensif.
- Greenpeace mencatat pusat data global pada 2030 berpotensi mengonsumsi listrik masif serta air dan lahan yang sangat luas.
- Narasumber mendorong media meliput realisasi investasi, dampak ekologis, dan kebutuhan sumber daya secara transparan kepada publik.
Menurut dia, aspek biaya sosial, biaya ekonomi, kebutuhan sumber daya, dan dampak lingkungan perlu menjadi bagian integral dari peliputan.
Perspektif ekologis disampaikan oleh Ketua Tim Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Yuyun Harmono.
Dalam materi bertajuk Data, Kolonialisme, dan Biaya Ekologis Pusat Data, Yuyun menyoroti kebutuhan material, energi, air, and lahan yang menyertai pembangunan infrastruktur digital tersebut.
Berdasarkan materi yang dipaparkannya, digitalisasi tidak lagi sebatas perangkat lunak.
Perkembangan AI membutuhkan pusat data, jaringan serat optik, hingga pembangkit listrik sehingga membentuk infrastruktur fisik dengan konsumsi sumber daya yang sangat besar.
Yuyun juga memaparkan proyeksi penggunaan sumber daya pusat data global untuk AI pada tahun 2030.
Materinya mencatat kebutuhan listrik dapat mencapai 945 terawatt-jam, dengan jejak penggunaan air yang setara dengan kebutuhan 1,3 miliar penduduk serta kebutuhan lahan sekitar 14.500 kilometer persegi.
Batam menjadi salah satu wilayah yang disoroti dalam pemaparan tersebut. Disebutkan bahwa terdapat 20 pusat data di Batam dengan kapasitas 126 megawatt yang telah beroperasi, serta rencana penambahan kapasitas sebesar 1,4 gigawatt.
Materi Greenpeace juga mencatat daya pasok listrik Batam sebesar 812 megawatt dengan beban puncak 741 megawatt.
Pada saat yang sama, terdapat rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara berkapasitas 300 megawatt serta penambahan pembangkit gas sebesar 120 megawatt.
Yuyun merekomendasikan agar pembangunan pusat data memperhatikan penggunaan energi terbarukan secara berkelanjutan.
Ia juga mencantumkan pentingnya penggunaan sistem pendingin bersirkuit tertutup agar air bersih tidak terbuang untuk pendinginan, pemanfaatan kembali sedikitnya 25 persen panas buangan, serta kewajiban membuka indikator lingkungan secara transparan kepada publik.
Sementara itu, Redaktur Katadata, Reza Aji, membagikan pengalaman peliputannya mengenai perkembangan pusat data di Batam.
Ia mengatakan bahwa persoalan ketersediaan air menjadi salah satu alasan yang membuatnya tertarik mengangkat isu pusat data di wilayah tersebut.
Menurut Reza, perkembangan AI turut mengubah kebutuhan teknis pusat data.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- KPK Ungkap Riwayat Tanah Kavling Pesantren Darul Istiqamah Maros, Minta Hak Warga Dituntaskan
- Cegah Papua Jadi 'Sudan Kedua', Pemerintah Diminta Tarik Pendekatan Militeristik dan Buka Dialog
- 5 Eye Cream Kemasan Jar untuk Bikin Area Mata Tampak Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
Terkini
-
Fesmed Selat Malaka 2026, Mengawal "Biaya Ekologis" di Tengah Gemerlap Investasi AI
-
Sebanyak 1.619 Debitur Telah Memperoleh Penyaluran KPP Bernilai Rp427,5 Miliar dari BRI
-
Linggis Ditangkap Terkait Bentrokan Berdarah Tewaskan 2 Orang di Batam
-
Ribuan Warga di Kepri Terjangkit ISPA, Madrasah Belajar dari Rumah Akibat Kabut Asap
-
Kronologi Konflik Lahan Berujung Maut di Setokok Batam, Dua Orang Tewas