SuaraBatam.id - Kampung Aceh Batam dikabarkan segera direlokasi karena merebaknya Penyakit masyarakat (Pekat) di sana.
Sebelumnya, aparat keamanan menyita 13 mesin Gelper, 4 pucuk senjata tajam dan 6 unit sepeda motor tanpa surat pada Selasa 28 Maret 2023 lalu.
Selain itu juga diamankan sebanyak 2 unit timbangan digital, 35 alat hisap sabu dan 10 ikat plastik plastik bening kecil.
Operasi kemudian berlanjut dengan pembongkaran 7 bangunan di Kawasan Kampung Aceh.
Sebelum direlokasi, Kampung Aceh Batam punya sejarah yang tak bisa dilupakan begitu saja dari Batam.
Berdasarkan pengakuan seorang warga Aceh yang lama menetap di Batam, bahwa kampung itu tak dapat dipisahkan dari warga Aceh.
Wan Pase bercerita waktu pertama kali kampung itu terbentuk banyak warga Aceh datang ke sana.
“Dimana sekitar era 80-an itu banyak warga Aceh yang hijrah ke Batam dan menetap di sana. Kemudian membentuk komunitas kecil. Sama-sama orang yang lari Aceh demi menyelamatkan diri semasa konflik,” ujar pria yang dijuluki Geuchik Aceh ini, dari artikel yang dimuat mediaaceh.co via Batamnews--jaringan suara.com.
Warga Aceh semakin banyak ketika karena jadi tempat transit orang Aceh sebelum akhirnya menyeberang ke Malaysia.
Baca Juga: Tanah Retak di Ponorogo: Warga Meminta Relokasi, Namun Bupati Belum Bisa Berjanji
“Di sana ada area tanah milik otoritas Batam, tepatnya di Simpang Dam, Kelurahan Mukakuning, Batam. Awalnya, beberapa warga Aceh mendirikan bangunan di area itu. Kemudian kian tahun bertambah banyak dan jadilah seperti perkampungan,” ujar Wan Pase.
Beberapa tokoh asal Aceh, kata dia, pernah tinggal di sana. “Tak usah kita sebutkan nama, tak enak,” ujarnya lagi.
Karena daerah itu sudah banyak dihuni oleh warga dan kebanyakan merupakan pendatang dari Aceh, kata Wan Pase, akhirnya diberilah nama Kampung Aceh.
“Nama Kampung Aceh sendiri lebih dikenal dari Mukakuning. Semua orang tahu kalau ditanya dimana Kampung Aceh? Namun tak semua warga Batam tahu dimana Mukakuning,” ujarnya lagi.
Sekitar tahun 2005, kata Wan Pase, Kampung Aceh tak lagi menjadi milik pendatang asal Aceh.
“Ada sejumlah pendatang dari daerah lain yang juga menetap di sana. Namun nama Kampung Aceh tetap. Sayangnya, kasus temuan narkoba membuat Kampung Aceh disorot negatif serta sering dikaitkan dengan Aceh. Padahal, orang yang tinggal di Kampung Aceh saat ini sudah beragam dan berasal dari berbagai daerah,” katanya lagi.
Berita Terkait
-
Jejak 2 Ahli Kimia Asal China di Balik Lab Sabu 1,2 Ton di Aceh, Datang Khusus Jadi 'Koki' Kristal
-
Pasar Taman Puring Bakal Diubah Jadi RTH Taman Setara, Pedagang Bakal Direlokasi
-
Ada Dugaan Kelalaian, Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Blackout Batam-Bintan
-
Buntut Blackout Batam-Bintan, Bukti Rambut Kera di Trafo Seret 5 Orang Jadi Tersangka
-
Siasat Pramono Atasi Potensi Krisis Kuburan di Jakarta: dari Relokasi Warga hingga Cari Lahan Baru
Terpopuler
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- 4 Sunscreen Wardah untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Tak Masuk Skuad Utama Persija, Kualitas Shayne Pattynama di Bawah Standar Shin Tae-yong
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Mahasiswi Tewas Ditabrak di Batam, Sopir Mobil Mewah Sempat Mau Kabur
-
Mahasiswi Tewas Ditabrak di Batam, Detik-detik Kecelakaan Terekam CCTV
-
Mahasiswa Geruduk DPRD Batam: Protes Data Center, Blackout hingga Karhutla
-
BRI Perkuat Kompetensi Generasi Muda Lewat Program Magang Nasional 2026
-
Siswa SMA di Batam Cedera Kepala Dipukul Teman, Kacabdis Kepri: Namanya Anak-anak