SuaraBatam.id - Panpel Arema FC Abdul Harris, meminta untuk para korban yang meninggal untuk di autopsi.
Langkah itu dianggapnya dapat memperjelas penyebab kematian dari korban jiwa dalam tragedi berdarah itu.
Aremania melalui perwakilannya, Zulham Mubaroq juga setuju jika korban meninggal dalam tragedi Kanjuruhan di autopsi.
Zulham Mubaroq menyampaikan alasannya untuk dilakukan autopsi kepada korban yang meninggal dalam tragedi di stadion Kanjuruhan itu, ia menyebut bahwa progress penanganan di lapangan kurang optimal.
"Ya, kami mendengar dengan jelas dan kami sepakat dengan statemen dari panpel Arema bapak Abdul Harris," kata Zulham Mubaroq dikutip dari Hops.ID, Kamis, 13 Oktober 2022.
Ketika ditanya soal alasan Aremania yang setuju dengan permintaan Abdul Harris yang meminta untuk segera lakukan autopsi, Zulham menyatakan bahwa menurut dirinya dan Aremania lainnya progress penanganan di lapangan kurang optimal, selain itu pendataan korban juga kurang optimal.
"Pertama, saya ingin menyampaikan bahwa terkait penanganan perkara kematian 132 Aremania dan Aremanita, kami melihat progress penanganan di lapangan itu mungkin kurang maksimal, salah satunya dari hari pertama hingga hari ini, misalnya upaya dalam pendataan korban. Temen-temen yang selama ini berwenang di dalam pendataan baik dari kepolisian maupun unsur penegakan hukum ini sepertinya ada keengganan untuk kemudian mendata secara riil kematian," jelasnya.
"Ini mengindikasikan bahwa kalau data kematian saja mereka kemudian tidak optimal apalagi bicara soal autopsi, ini ada apa, nah ini pertanyaan kami dari Aremania," tuturnya.
Kemudian ketika disinggung soal keengganan untuk mendapatkan data kematian para korban tragedi Kanjuruhan, Zulham menyebut bisa jadi pihak aparat yang enggan untuk mendapatkan data kematian para korban.
"Saya potong sebentar disitu, menurut mas Zulham dan Aremania siapa yang kurang maksimal, siama yang enggan bahkan enggan untuk mendapatkan data kematian, pihak kepolisian kah?" tanya pembawa acara Apa Kabar Indonesia Malam.
"Bisa dibilang begitu, tetapi kami memahami lah ini kejadian luar biasa tapi mohon agar sikap-sikap yang profesional tetap dijalankan bahwa penanganannya perlu dioptimalkan itu menjadi catatan yang cukup penting bagi Aremania saat ini," katanya.
Tidak hanya itu, Zulham juga menyebut bahwa tragedi Kanjuruhan ini seperti gunung es, ia juga menyebut bahwa masih ada korban yang kondisinya masih kritis. Ia juga mengungkapkan jika para korban langsung dibawa pulang dan tidak mau melaporkan karena beberapa faktor, ia juga mengungkapkan bahwa hal ini cukup rumit untuk mendorong para korban untuk diperiksa secara detail.
"Saat ini seperti diketahui, masih ada sekitar 2 atau 3 orang yang kondisinya kritis, kemarin korban bertambah lagi, meninggal 2 di rumah sakit diluar setelah kejadian baru meninggal dan ini gunung es, bahwa fakta di lapangan saya kebetulan anggota koordinator tim pos mortem saya yang mendata seluruh data kematian, saya cek, kroscek ricek dan kami temukan bahwa masih ada potensi banyak orang yang belum melaporkan kejadian ini kepada kami," jelasnya.
"Jadi mereka langsung dibawa pulang terus tidak mau untuk kemudian melaporkan karena ada faktor budaya, fakor agama dan lain-lain. Maka, memang agak rumit untuk kemudian mendorong para korban ini untuk kemudian bersiap secara psikis untuk diperiksa secara detail. Tapi kami mohon lah mereka punya mekanisme yang lebih teknis dalam mengungkap sebuah perkara," jelasnya lagi.
Kemudian, ketika ditanya tentang persetujuan keluarga korban untuk dilakukan autopsi, Zulham mengungkapkan bahwa sebagian keluarga korban menolak untuk dilakukan autopsi karena alasan masih berkabung dan budaya, namun ia juga menegaskan bahwa pendekatan hukum berbeda dengan pendekatan yang dilakukan Aremania.
Berita Terkait
-
Identitas 15 Korban Meninggal dalam Kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo di Bekasi Timur
-
Ingatkan Regulasi PSSI, Persib Bandung Larang Aremania Hadir di GBLA
-
Derbi Jatim Arema FC vs Persebaya Surabaya Terancam Batal di Kanjuruhan
-
PUI Kritik DPR: Jangan Cuma Kasus Viral, Kawal Kanjuruhan dan KM 50 Secara Serius
-
Teriakan di Gang 10: Teka-teki Keracunan Satu Keluarga di Warakas, Bunuh Diri atau Pembunuhan?
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BRI Percepat BRIvolution Reignite untuk Tingkatkan Daya Saing dan Kontribusi Ekonomi Nasional
-
Gelapkan Dana Siswa Ratusan Juta, Kepala SMA di Kepri Ditangkap
-
Kinerja Penyaluran KUR Perumahan BRI Tuai Apresiasi, Perkuat Program 3 Juta Rumah Pemerintah
-
Oknum Guru SD di Bintan Timur Ditangkap, Tiga Tahun Peras 10 Anak Didiknya
-
Transaksi QRIS BRI Melonjak 76%, Dorong Digitalisasi Merchant