SuaraBatam.id - Pakar Ekonomi Bank Permata Josua Pardede menilai, Bank Indonesia harus independen dalam melaksanakan kebijakan moneter yang membutuhkan konsistensi dalam jangka panjang serta bebas dari intervensi.
"Intervensi dan independensi yang berkurang dari bank sentral tentunya bisa mempengaruhi kredibilitas. Kita mendukung bahwa kebijakan ataupun otoritas moneter yakni BI adalah lembaga yang independen," kata dia, Senin (19/4/2021).
Menurutnya, fungsi indepedensi Bank Indonesia harus maksimal terutama dari tekanan politik yang bisa membuat kebijakan moneter tidak konsisten dan kredibel sulit tercapai.
"Pemerintahan itu kan tiap lima tahun berubah, sehingga arah kebijakannya pun bisa berubah. Kalau itu diintervensi, target jangka panjang tak fokus karena harus menyelesaikan target jangka pendek," jelasnya.
Ia mengungkapkan independensi akan menghasilkan kebijakan moneter yang terakselerasi dengan maksimal dan tentunya dapat menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung penguatan ekonomi nasional.
Dalam kesempatan itu ia juga mengapresiasi kinerja Bank Indonesia sebagai lembaga independen. Seperti inflasi pada Maret 2021 yang hanya 1,38 persen, jauh lebih baik dari krisis moneter pada 2008 dan 1998 yang masing-masing 12,1 persen dan 82,4 persen.
Begitu juga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang pada Januari 2021 tercatat 3,17 persen, jauh lebih baik dari ketika BI terikat oleh dewan moneter pada 1998 dengan level NPL mencapai 30 persen.
"Dengan independensi bank Indonesia yang mulai efektif 2004, pertumbuhan ekonomi lebih stabil dan terjaga, begitu juga dengan inflasi yang terjaga. Berarti respons BI sebagai otoritas moneter yang independen, mendukung terjadinya stabilitas di perekonomian," katanya.
Untuk diketahui, RUU sektor keuangan yang rencananya akan dibahas DPR pada Agustus 2021, akan merevisi ulang tujuh undang-undang pendahulunya. Salah satunya adalah penataan ulang dari kewenangan kelembagaan yang dikhawatirkan sejumlah pihak akan mengurangi independensi Bank Indonesia. [Antara]
Baca Juga: BI Catat Temuan Uang Palsu Turun Seiring Transaksi Digital
Berita Terkait
-
BI Jabar Siapkan Uang Tunai Rp 17,45 Triliun untuk Ramadhan dan Lebaran
-
Bank Indonesia Sebut Kinerja Industri Karet-Makanan Mulai Pulih di Sumut
-
BI Klaim Industri Karet dan Makanan di Sumut Mulai Pulih
-
Stok Tukar Uang Pecahan untuk Lebaran di Kaltim dan Kaltara Dijamin Aman
-
Bank Indonesia Sediakan 51 Lokasi Penukaran Uang di Batam
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Selisih Gadai Mobil, Pria di Batam Dikeroyok Debt Collector
-
Penarikan Undian Program BRI Debit FC Barcelona: Ada Trip ke Camp Nou dan Banyak Benefit
-
Rekonstruksi Kasus Tewasnya Polisi Muda Polda Kepri, 37 Adegan Diperagakan
-
WNA Belanda di Batam Ditemukan Tewas di Rumah, Darah Mengalir hingga Teras
-
BRI Konsisten Dorong Pemberdayaan Perempuan di Seluruh Indonesia, Ekonomi Inklusif di Hari Kartini