Skripsinya berjudul "Kedudukan dan Fungsi Pers dalam Sistem Demokrasi Terpimpin".
Karier Jakob Oetama
Jakob Oetama mulai menggeluti dunia jurnalistik ketika bekerja sebagai redaktur Mingguan Penabur Jakarta. Bersama jurnalis legendaris Indonesia lainnya, yakni PK Ojong, Jakob mendirikan majalah Intisari tahun 1963. Ia dipercaya untuk menjadi Ketua Editor majalah bulanan Intisari.
Dua tahun kemudian, 28 Juni 1965, masih bersama Ojong, Jakob membangun surat kabar harian Kompas. Ia pun sempat menjadi Ketua Editor harian Kompas, lalu menjadi Pemimpin Umum/Redaksi Kompas hingga ke jabatan terakhir Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia.
Kesuksesannya di sebagai bos perusahaan media tidak perlu diragukan. Jakob Oetama ikut berperan mendirikan Kompas Gramedia, Kompas Cyber Media, Kompas TV, Trans7, KG Media.
Kompas kekinian mulai merambah bisnis lain di luar media, mulai dari toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, hingga universitas.
Tidak hanya Kompas, Jakob Oetama bersama PK Ojong juga menjadi pemimpin terbitan mingguan Star Weekly. Ia juga membangun The Jakarta Post dengan kolaborasi bersama Jusuf Wanandi, Muhammad Chudori, Eric Samola, Fikri Jufri, Goenawan Mohamad, H. G. Rorimpandey dan Harmoko.
Selain sukses mendirikan perusahaan media, Jakob Oetama juga rajin dalan berbagai organisasi. Berikut ini riwayat organisasi Jakob Oetama:
- Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
- Anggota DPR Utusan Golongan Pers
- Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia
- Anggota Dewan Penasihat PWI
- Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ)
- Anggota Asosiasi International Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai, Amerika Serikat
- Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Serikat Penerbit Surat Kabar.
Baca Juga: Soroti Isu Aturan Rapid Test Perjalanan Dicabut, Sutarmidji: Itu Konyol
Jakob Oetama mendapat gelar Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi dari Universitas Gajah Mada. Ia juga adalah penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973
Tag
Berita Terkait
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid
-
KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!
-
Satu Berita Berujung Hilang! Gambaran Ketakutan Wartawan Yaman, Houthi Dikaitkan dengan 167 Kasus
-
Daftar 3 Media Gugat Donald Trump karena Dilarang Liputan di Gedung Putih
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Mahasiswi Tewas Ditabrak di Batam, Sopir Mobil Mewah Sempat Mau Kabur
-
Mahasiswi Tewas Ditabrak di Batam, Detik-detik Kecelakaan Terekam CCTV
-
Mahasiswa Geruduk DPRD Batam: Protes Data Center, Blackout hingga Karhutla
-
BRI Perkuat Kompetensi Generasi Muda Lewat Program Magang Nasional 2026
-
Siswa SMA di Batam Cedera Kepala Dipukul Teman, Kacabdis Kepri: Namanya Anak-anak