alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

533 Juta Data Pribadi Pengguna Facebook Dijual Bebas di Telegram

M Nurhadi Rabu, 27 Januari 2021 | 15:53 WIB

533 Juta Data Pribadi Pengguna Facebook Dijual Bebas di Telegram
Ilustrasi Facebook (Unsplash)

Data tersebut, diduga kuat berasal dari kelemahan Facebook yang terjadi pada tahun 2019 lalu.

SuaraBatam.id - Kemanan pribadi lagi-lagi jadi salah satu yang menjadi kelemahan Facebook. Paling baru, 533 juta data nomer telepon milik pengguna Facebook dijual oleh pihak tidak bertanggung jawab melalui aplikasi percakapan Telegram.

Data tersebut, diduga kuat berasal dari kelemahan Facebook yang terjadi pada tahun 2019 lalu.

Melansir dari Business Standard, laporan dari Motherboard menyebutkan, pihak tersebut menjual data pribadi seharga 20 dolar Amerika. 

Salah satu pendiri dan CTO perusahaan keamanan siber Hudson Rock Alon Gal mengaku, ini kali pertama baginya menemukan bot yang menjual informasi pribadi Facebook.

Baca Juga: Facebook Bermasalah, Pengguna iPhone Tiba-tiba Diminta Login Kembali

"Sangat mengkhawatirkan melihat database sebesar itu dijual di komunitas kejahatan dunia maya, itu sangat membahayakan privasi dan pasti akan digunakan untuk smishing (praktik penipuan mengirim pesan teks) dan kegiatan penipuan lainnya oleh pelaku kejahatan," ujar Gal, pada Senin (25/1/2021) lalu.

Meski data tersebut merupakan data lawas, hal itu masih sangat membahayakan bagi para pengguna di dunia.

"Hasil awal dari bot dihapus, tetapi pengguna dapat membeli kredit untuk mengungkapkan nomor telepon lengkapnya. Satu kredit adalah $ 20, dengan harga mencapai $ 5.000 untuk 10.000 kredit," sebut dalam laporan itu.

Dalam informasi yang mereka sebarkan, bot tersebut mengklaim memiliki informasi pengguna di AS, Kanada, Inggris, Australia, dan 15 negara lainnya.

Bot tersebut sudah tersedia sejak 12 Januari lalu.  Hingga saat ini, baik pihak Facebook atau Telegram belum mengeluarkan komentar apapun terkait hal ini.

Baca Juga: Viral Siswa Nonmuslim Dipaksa Berhijab

Sebelumnya, pada November tahun lalu, Facebook baru saja memperbaiki bug yang cukup riskan dalam aplikasi Messenger. Dalam kelamahan Messenger, peretas bisa menghubungkan panggilan audio tanpa sepengetahuan atau persetujuan dari pengguna aplikasi.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait