Mayoritas Atlet Terapkan Pola Hidup Sehat, Kok Bisa Alami Serangan Jantung?

Atlet dipercaya memiliki kondisi jantung yang berbeda dari manusia pada umumnya.

Risna Halidi | Lilis Varwati
Selasa, 29 September 2020 | 14:19 WIB
Mayoritas Atlet Terapkan Pola Hidup Sehat, Kok Bisa Alami Serangan Jantung?
Ilustrasi olahraga. (Shutterstock)

SuaraBatam.id - Selain nutrisi seimbang, olahraga menjadi salah satu cara untuk bisa mendapat tubuh yang sehat. Kedua hal tersebut menjadi hal yang lazim dilakukan oleh atlet untuk meningkatkan performanya.

Meski begitu, bukan berarti atlet tidak memiliki risiko mengalami penyakit tidak menular seperti serangan jantung. Itu juga mengapa seseorang -- sesehat atlet -- masih memiliki risiko mengalami serangan jantung.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Siska S. Danny Sp.JP (K), setiap atlet sebenarnya memiliki kondisi jantung yang berbeda dari manusia pada umumnya. 

"Itu kelompok khusus. Atlet aktivitas fisiknya keras dan kalau dilakukan dalam waktu lama, jantung akan mengalami perubahan bentuk untuk beradaptasi terhadap beban aktivitas fisik yang meningkat. Jadi otot jantung atlet sedikit lebih tebal," jelas Siska dalam webinar 'Kebiasaan Kecil Menjaga Jantung Sehat' beberapa waktu lalu.

Baca Juga:Catat, Ini Waktu Olahraga yang Tepat untuk Kurangi Risiko Penyakit Jantung

Karena kondisi jantung seperti itu, atlet membutuhkan asupan makanan dan nutrisi yang lebih banyak dari orang kebanyakan. 

"Kalau tidak ada keseimbangan antara asupan, kebutuhan jaringan untuk jantung itu bisa terjadi serangan jantung. Karena itu, kalau atlet usia 40 tahun disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan," ucapnya.

Siska menambahkan bahwa penyakit tidak menular seperti serangan jantung sebenarnya memiliki banyak faktor dan penyebab. Sehingga tidak cukup hanya dengan melihat pola hidup atau kebiasaan makanan yang dikonsumsi. 

"Serangan jantung penyebabnya multifaktorial, berbeda dengan penyakit menular. Antara lain bagaimana pola makan, bagaimana kolesterol, tekanan darah, gula darah, olahraga atau tidak. Tidak kemungkinan kalau kita sudah mengontrol satu faktor tapi ada hal lain yang tidak bisa dikontrol. Salah satunya genetik," paparnya.

Ia menyebutkan, jika memiliki riwayat keluarga langsung seperti ayah, ibu, kakak atau adik yang mengalami sakit jantung atau kematian mendadak di usia muda, maka ada kemungkinan faktor risiko  bersifat genetik yang tidak bisa dihindari.

Baca Juga:Turunkan Risiko Serangan Jantung, Yuk Olahraga Aerobik!

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini