- Kota Batam mengalami pemadaman listrik total akibat gangguan instalasi di Gardu Induk Sungai Harapan pada Senin, 12 Oktober 2026.
- PT PLN Batam mengerahkan tim teknis untuk melakukan pemulihan sistem kelistrikan secara bertahap dan menormalkan kembali jaringan distribusi.
- Pelanggan yang terdampak berhak mendapatkan kompensasi otomatis pada tagihan berikutnya sesuai dengan regulasi yang berlaku.
SuaraBatam.id - Kota Batam dilanda dengan pemadaman listrik total (blackout) sejak Senin 12 Oktober 2026. Kondisi ini mengakibatkan aktivitas masyarakat dan pemerintahan nyaris lumpuh.
Sekretaris Perusahaan PLN Batam, Rudi Antono, mengungkapkan bahwa gangguan mulai terdeteksi pukul 06.37 WIB. Hewan liar yang masuk ke area Gardu Induk Sungai Harapan diduga menjadi penyebabnya.
"Berdasarkan indikasi awal, gangguan diduga dipicu oleh masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan yang menyebabkan gangguan pada instalasi kelistrikan," katanya kepada Batamnews--jaringan Suara.com, Selasa (13/10/2026).
Meski investigasi awal sudah mengantongi dugaan kuat, namun PT PLN Batam belum mau berspekulasi lebih jauh.
Rudi menegaskan tim teknis PLN bersama pihak berwenang masih menelusuri penyebab pasti insiden tersebut. Begitu blackout terjadi, tim teknis dan operasional langsung diterjunkan.
Pemulihan dilakukan bertahap, mulai dari pemeriksaan dan penormalan pembangkit, sinkronisasi unit, hingga pemulihan jaringan transmisi dan distribusi.
PLN Batam memastikan seluruh gardu induk dan jaringan transmisi yang terdampak kini telah dinormalkan.
Dia mengungkapkan, fokus petugas saat ini di lapangan beralih ke pemulihan jaringan distribusi agar listrik kembali mengalir ke seluruh pelanggan.
"Meski sistem mulai normal, kami tetap menyiagakan petugas teknis dan operasional untuk terus memantau kondisi sistem kelistrikan serta menjaga keandalan pasokan listrik di Batam," tegas Rudi.
Di tengah upaya pemulihan, PLN Batam memastikan hak pelanggan atas kompensasi tetap dipenuhi. Kompensasi diberikan apabila pemadaman terbukti melampaui standar Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) atau Service Level Agreement (SLA) yang ditetapkan.
Aturan ini merujuk pada Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 22 Tahun 2017. Pelanggan reguler berhak atas kompensasi 10 persen dari biaya beban bulanan.
Sementara pelanggan layanan keandalan atau premium mendapat 15 hingga 25 persen dari Rupiah Pemakaian Tenaga Listrik (RPTL), sesuai jenis layanan yang diperjanjikan.
"Kompensasi akan diberikan secara otomatis melalui tagihan listrik berikutnya, sehingga pelanggan tidak perlu repot mengajukan klaim," tutup Rudi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
Terkini
-
Polda Kepri Resmi Larang Personel Gunakan Rokok Elektrik
-
Kompensasi Blackout Cuma Rp6 Ribu-Rp12 Ribu, Tagihan Listrik Warga Batam Malah Naik
-
Mundur dari Polri, Sosok AKBP Netty Siagian Ternyata Pernah Kritik Seskab Teddy
-
KPK Ingatkan Pejabat Kepri Hindari Flexing, Gaya Hidup Mewah Bisa Picu Korupsi
-
AKBP Netty Siagian Mundur dari Polri: Menyakitkan Bertahan dalam Tatanan Tak Lagi Sejalan