SuaraBatam.id - Setelah berhijab, Melly Goeslaw ingin menjalankan perintah Allah SWT secara istikomah. Namun, ada kebiasaan yang belum bisa ditinggalkannya, misalnya bergibah.
Melly mengaku tidak bisa meninggalkan kebiasaan tersebut karena ia masih sering ngumpul dengan teman-temannya.
"Berghibah sori gua belum bisa setop bergibah. Ngomongin orang, memfitnah ga bisa lah gua masih ada arisan ga mungkinlah ya ga sih. Ga bohong, gua beneran jujur aja pasti masih ada bergibah," kata Melly dikutip dari YouTube Daniel Mananta Network.
Selain itu, salat lima waktunya juga masih tidak tepat waktu karena sering terbentur dengan konser musiknya.
Begitu juga dengan puasa yang masih ada bolongnya. Satu-satunya yang bisa dilakukan Melly Goeslaw secara konsisten adalah berhijab.
"Oh gua tutup aurat, gua bisa nih karena kebetulan gua dari dulu bukan yang buka-bukaan jadi untuk menutup seperti ini menurut gue ga susah dan bisa gue lakukan," kata istri Anto Hoed ini.
"Dari sejumlah permintaan Allah, yang bisa gua lakukan istikomah menutup aurat. Menutup aurat loh ya, gua ga bilang hijrah," ujarnya.
"Kenapa?" tanya Daniel penasaran mengenai pernyataan Melly sudah berhijab tapi belum hijrah.
"Karena hijrah buat gua berat. Dan buat teman-teman gua yang lain berat sih kalo lu bilang hijrah. Karena hijrah itu lu berpindah dari baik level 2 ke level 7 pindahnya itu ke yang lebih baik," kata Melly.
Baca Juga: Melly Goeslaw Mengaku Tak Bisa Tinggalkan Ghibah Dan Sebut Baginya Hijrah Itu Berat
Menurut Melly, dirinya belum tentu berubah menjadi lebih baik dengan menutup aurat karena itu kata hijrah baginya cukup berat.
"Tapi gua selalu mengajarkan ke teman-teman gua yang sudah nutup aurat jangan terus jadi perintah Allah itu lu jadi depresi. Contoh kalo lu masih ngerokok, ngerokok aja. Kan banyak hijaber yang masih merokok tapi ga merokok di depan umum apa karena malu atau apa," terangnya.
Melly menghargai jika hal itu dilakukan untuk menjaga citra hijaber tapi bagi Melly itu sama saja seperti berbohong.
"Gua menghargai sih kalo itu dilakukan ingin menjaga citra hijaber tapi menurut gua, boleh dong gua punya pendapat lain. itu Allah ga ngajarin kita bohong, kita mesti apa adanya selama ga neko-neko," tuturnya.
Itulah mengapa menurut Melly Goeslaw, hjrah itu berat karena harus meninggalkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.
"Hijrah itu berat karena kita harus meninggalkan segala sesuatu yang duniawi. Menurut gue kalo uda mau meninggalkan duniawi, ya lu instagram juga ga boleh punya," ucapnya.
Berita Terkait
-
Melly Goeslaw Puji Konsep Resepsi El dan Syifa: Orang Tuanya Gak di Pelaminan!
-
Akui Salah Kostum, Melly Goeslaw Puji Resepsi El Rumi dan Syifa Hadju: Orang Tuanya Gak di Pelaminan
-
Soroti Pendidikan, Melly Goeslaw Usulkan Ekonomi Kreatif Masuk RUU Sisdiknas
-
Pesona Nikita Willy Berhijab Saat Liburan di Jepang Curi Perhatian
-
Outfit Olahraga Nikita Willy Disorot Usai Putuskan Berhijab
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Selisih Gadai Mobil, Pria di Batam Dikeroyok Debt Collector
-
Penarikan Undian Program BRI Debit FC Barcelona: Ada Trip ke Camp Nou dan Banyak Benefit
-
Rekonstruksi Kasus Tewasnya Polisi Muda Polda Kepri, 37 Adegan Diperagakan
-
WNA Belanda di Batam Ditemukan Tewas di Rumah, Darah Mengalir hingga Teras
-
BRI Konsisten Dorong Pemberdayaan Perempuan di Seluruh Indonesia, Ekonomi Inklusif di Hari Kartini