SuaraBatam.id - Ilmuwan di gua dan terowongan pertambangan Pegunungan Nimba di Guinea, Afrika Barat, menemukan spesies baru kelelawar oranye. Kelelawar pertama kali terlihat pada 2018 oleh tim ilmuwan, yang dipimpin American Museum of Natural History dan organisasi Bat Conservation International.
Mereka melakukan survei lapangan untuk memastikan spesies mana yang hidup di terowongan pertambangan tua di pegunungan, dikenal sebagai adits dan pada jam berapa dalam setahun. Para ilmuwan mengatakan bahwa spesies baru kemungkinan besar terancam punah, paling tidak karena hanya ditemukan di pegunungan yang satu ini.
“Di zaman kepunahan, penemuan seperti ini menawarkan secercah harapan,” kata Winifred Frick, kepala ilmuwan di Bat Conservation International dan profesor riset asosiasi di Universitas California, Santa Cruz, dilansir laman Independent, Minggu (17/1/2021).
“Itu hewan yang spektakuler. Memiliki bulu jingga cerah, dan karena sangat berbeda, itu membuat kami menyadari bahwa itu tidak dijelaskan sebelumnya. Menemukan mamalia baru itu langka. Itu telah menjadi impianku sejak aku masih kecil," ujar dia lagi.
Dr Frick dan rekan-rekannya bekerja dengan perusahaan pertambangan lokal Société des Mines de Fer de Guinée (SMFG), ketika mereka secara tidak sengaja menemukan spesies baru tersebut. Tim tersebut telah melakukan survei lapangan di terowongan bekas tambang dengan minat khusus pada spesies kelelawar lainnya, kelelawar daun bundar Lamotte, Hipposideros lamottei.
Kelelawar ini terdaftar Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam, sebagai spesies terancam punah dan hanya pernah tercatat di Pegunungan Nimba.
Saat menyurvei kelelawar ini, para peneliti menemukan sesuatu yang aneh. Kelelawar yang tidak terlihat seperti kelelawar daun bundar Lamotte dan tidak cocok dengan deskripsi spesies lain yang mereka ketahui, ada di daerah tersebut.
Studi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang kritis dalam membantu kelelawar Gunung Nimba bertahan hidup. Para peneliti mengatakan meskipun sedikit yang diketahui tentang populasi dan jangkauan Myotis nimbaensis, upaya seperti ini kemungkinan besar akan membantu juga.
Spesies ini dideskripsikan untuk pertama kalinya dalam jurnal American Museum Novitates.
Baca Juga: Virologi China Shi Zhengli Yakin Virus Corona Berasal dari Hewan Mink
Berita Terkait
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Keruk Batubara RI Tapi Sumbang Rp1,7 T ke Singapura, Eks Kepala BKPM Sentil Bos Bayan Resources
- Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Mahasiswi Tewas Ditabrak di Batam, Sopir Mobil Mewah Sempat Mau Kabur
-
Mahasiswi Tewas Ditabrak di Batam, Detik-detik Kecelakaan Terekam CCTV
-
Mahasiswa Geruduk DPRD Batam: Protes Data Center, Blackout hingga Karhutla
-
BRI Perkuat Kompetensi Generasi Muda Lewat Program Magang Nasional 2026
-
Siswa SMA di Batam Cedera Kepala Dipukul Teman, Kacabdis Kepri: Namanya Anak-anak