alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Untuk Pemula! Ini Cara Memotret Fenomena Langit Malam dengan Lensa Kamera

Dinar Surya Oktarini Kamis, 09 September 2021 | 08:30 WIB

Untuk Pemula! Ini Cara Memotret Fenomena Langit Malam dengan Lensa Kamera
Ilustrasi fenomena langit. [Shutterstock]

Banyak fenomena langit yang bisa dipakai untuk diabadikan dengan lensa kamera.

SuaraBatam.id - Banyak fenomena langit yang bisa diabadikan dengan lensa kamera, seperti fenomena Bimasakti

Namun, tidak semua orang tahu bagaimana memotret fenomena alam tersebut.

Dilansir dari Space.com, Rabu (8/9/2021), berikut lima ini cara memotret langit lama untuk pemula:

1. Kamera

Baca Juga: Teleskop Hubble Intip Gugus Bintang Terang di Tetangga Bimasakti

Untuk mendapatkan gambar terbaik, pengguna dapat menggunakan kamera DSLR atau mirrorless dalam mode manual.

Kamera full frame akan memberikan performa terbaik dalam situasi cahaya rendah karena memiliki sensor yang lebih besar dan menangkap lebih banyak cahaya.

Ilustrasi kamera. (Pixabay/pexels)
Ilustrasi kamera. (Pixabay/pexels)

Namun, kamera kamera crop-sensor modern sangat mumpuni untuk astrofotografi dan merupakan pilihan yang lebih terjangkau daripada kamera full frame.

2. Pengaturan kamera

Pengaturan kamera akan sedikit berbeda tergantung pada cahaya di sekitar lokasi pengamatan dan panjang fokus.

Baca Juga: 5 Fenomena Langit Apik Sepanjang September 2021, Ada Ekuinoks

Untuk mode kamera, pengamat harus mengatur kecepatan rana dan ISO secara manual. Semakin tinggi ISO, semakin banyak sinyal cahaya yang diperkuat dari sensor kamera.

Pengamat perlu memotret pada ISO tinggi, tetapi itu akan berisiko menambah banyak noise. Direkomendasikan untuk memulai pada ISO 3200.

Namun, pengamat mungkin perlu menyesuaikan ke ISO 1600 jika menemukan banyak cahaya di sekitar atau polusi cahaya.

Untuk memproses gambar langit yang baru diperoleh, pengguna harus memotret dalam jenis file gambar raw sehingga pengamat dapat menangkap dan menyimpan data sebanyak mungkin.

3. Lensa

Lensa fast wide angle atau super-wide angle dalam kisaran 12-35mm paling cocok untuk astrofotografi lanskap.

Panjang fokus sudut lebar memungkinkan pengamat menangkap sebagian besar langit malam.

Ilustrasi lensa kamera. [Shutterstock]
Ilustrasi lensa kamera. [Shutterstock]

Lensa fast merupakan lensa yang memiliki aperture maksimum yang besar.

Lensa dengan aperture maksimum f/2.8 atau lebih rendah dianggap sebagai lensa cepat dan sangat baik untuk astrofotografi.

4. Aksesoris

Pengamat membutuhkan aksesoris atau perlengkapan penunjang saat memotret, seperti tripod, lampu depan, dan remote shutter release.

Tripod dapat membantu pengamat saat melakukan pengambilan eksposur lama.

Pergerakan kamera dari angin akan cepat merusak gambar, sehingga pengamat harus memiliki dasar yang kuat.

Sementara lampu depan di malam hari digunakan untuk mempertahankan penglihatan malam. Lampu depan juga berguna untuk objek "light painting" di latar depan gambar.

Sedangkan remote shutter release memungkinkan pengamat untuk memicu rana sambil meminimalkan risiko getaran.

Jika pengamat tidak memiliki remote shutter release, gunakan timer pada kamera untuk memastikan tidak ada gerakan kamera selama eksposur.

5. Tentukan tempat dan subjek

Ilustrasi langit. (unsplash/Daniel Olah).
Ilustrasi langit. (unsplash/Daniel Olah).

Pengamat harus berada di area langit yang sangat gelap untuk menangkap gambar detail langit. Pilih lokasi yang jauh dari perkotaan dan tanpa polusi cahaya.

Di sisi lain, pengamat juga harus mengetahui objek apa yang akan diabadikan. Untuk mempermudah, pengamat dapat mengecek objek di aplikasi Stellarium dan Starwalk 2.

(Lintang Siltya Utami)

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait